kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga minyak terus mendidih meningkat lebih dari 2%


Senin, 01 Juli 2019 / 12:36 WIB
Harga minyak terus mendidih meningkat lebih dari 2%

Sumber: Reuters | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak naik lebih dari US$ 1 per barel pada hari Senin setelah Arab Saudi, Rusia dan Irak mendukung perpanjangan pemotongan pasokan untuk enam hingga sembilan bulan menjelang pertemuan OPEC di Wina.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September menyentuh harga tertinggi harian yakni sebesar US$ 66,44 per barel dan naik US$ 1,57 atau 2,4%.


Sementara minyak mentah berjangka AS untuk Agustus naik US$ 1,36 atau 2,3% menjadi US$ 59,83 per barel setelah sebelumnya mencapai puncaknya US$ 60,10. Harga tersebut tertinggi dalam lebih dari lima minggu.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya tampaknya akan memperpanjang pengurangan pasokan minyak hingga akhir 2019 setelah produsen utama pada hari Minggu menyetujui kebijakan yang bertujuan menopang harga minyak mentah.

OPEC, Rusia dan produsen lainnya (OPEC +) bertemu pada hari Senin dan Selasa untuk membahas pengurangan pasokan. Grup ini telah mengurangi produksi minyak sejak 2017 untuk mencegah penurunan harga di tengah melemahnya ekonomi global dan melonjaknya output AS.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada hari Minggu bahwa dia telah setuju dengan Arab Saudi untuk memperpanjang pengurangan produksi 1,2 juta barel per hari (bph) selama enam hingga sembilan bulan.

Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan kesepakatan itu kemungkinan besar akan diperpanjang sembilan bulan dan tidak ada pengurangan yang lebih dalam diperlukan.

"Meskipun ini perlu diratifikasi oleh anggota yang tersisa dari kelompok OPEC +, ini tampaknya menjadi fakta yang tercapai," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

Sedangkan, Stephen Innes, managing partner di Vanguard Markets di Bangkok, mengatakan harga minyak dalam jangka menengah dapat disebabkan karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketika bank sentral China melonggarkan kebijakan moneter untuk mengimbangi dampak dari tarif AS.




TERBARU

Close [X]
×