Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga platinum dan rhodium diperkirakan akan mencatat kenaikan tajam sepanjang 2026 di tengah berlanjutnya defisit pasokan logam kelompok platinum atau platinum group metals (PGM), menurut proyeksi lembaga riset Metals Focus yang dirilis Senin (18/5/2026).
Melansir Reuters, Metals Focus memperkirakan harga platinum akan melonjak 71% menjadi rata-rata US$ 2.190 per ons troi pada 2026, dari estimasi rata-rata US$ 1.280 per ons troi pada 2025.
Baca Juga: Trump: AS Seharusnya Pegang Saham Lebih Besar di Intel
Sementara itu, harga rhodium diprediksi naik 62% menjadi US$ 10.200 per ons troi dari US$ 6.300 per ons troi.
Adapun harga palladium diperkirakan meningkat 37% menjadi US$ 1.570 per ons troi pada 2026.
Logam-logam PGM banyak digunakan dalam catalytic converter kendaraan untuk mengurangi emisi berbahaya dari mesin pembakaran internal.
Kenaikan harga kelompok logam ini didorong oleh kombinasi ketatnya pasokan, meningkatnya permintaan investasi fisik, hingga gangguan distribusi akibat kekhawatiran tarif Amerika Serikat.
Baca Juga: Penyanyi Asal Kolombia Shakira Dibebaskan dari Tuduhan Penipuan Pajak di Spanyol
Direktur PGM Metals Focus Wilma Swarts mengatakan, pasar logam PGM kini telah memasuki level harga yang lebih tinggi dibandingkan tren historis sebelumnya.
“Selain periode pandemi Covid-19, ketika terjadi lonjakan sementara, kini seluruh kompleks PGM secara efektif telah bergerak ke level harga yang lebih tinggi,” ujar Swarts.
Ia menambahkan, pertumbuhan kendaraan listrik yang tidak menggunakan PGM ternyata tidak secepat perkiraan sebelumnya, sehingga permintaan logam tersebut tetap terjaga.
Meski harga PGM sempat terkoreksi setelah reli emas mereda dan perang Iran menekan sentimen investasi, kinerja tahunan logam-logam tersebut masih sangat kuat.
Harga platinum tercatat melonjak 110% dibandingkan setahun lalu, palladium naik 51%, rhodium melesat 83%, dan ruthenium melonjak hingga 158%.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis dari Posisi Terendah 1,5 Bulan, Peluang Rebound Mulai Terlihat
Metals Focus menilai kondisi pasar masih ketat akibat defisit struktural yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ketatnya pasokan tercermin dari tingginya biaya sewa logam di pasar London, terutama setelah lonjakan ekstrem pada 2025 ketika kekhawatiran tarif mendorong perpindahan stok ke Amerika Serikat.
Menurut Swarts, platinum memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan logam PGM lainnya karena memiliki sumber permintaan yang lebih beragam, termasuk sektor perhiasan, serta korelasi yang kuat dengan harga emas.
“Seluruh logam PGM juga diuntungkan oleh aliran investasi ke aset fisik di tengah ketidakpastian geopolitik,” katanya.
Baca Juga: Meski Populasi India Capai 1,4 Miliar, Sekutu Modi Desak Peningkatan Jumlah Kelahiran
Dari sisi industri tambang, Metals Focus mencatat harga keranjang PGM naik 28% sepanjang 2025 setelah sebelumnya mengalami penurunan selama tiga tahun berturut-turut.
Kenaikan harga tersebut membantu memperbaiki profitabilitas perusahaan tambang di Afrika Selatan dan Rusia, dua produsen utama PGM dunia, meskipun biaya produksi juga meningkat.
Namun, Metals Focus menilai kapasitas produksi tambang tidak dapat meningkat secara cepat karena ekspansi produksi membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Secara fundamental, pasar platinum diperkirakan masih mengalami defisit fisik sebesar 312.000 ons troi pada 2026, sementara palladium diperkirakan defisit 376.000 ons troi dan rhodium defisit 92.000 ons troi.
Sementara itu, stok di atas permukaan tanah (above-ground stocks) diperkirakan terus menurun pada 2026, termasuk stok rhodium yang diproyeksikan turun 28% menjadi hanya 237.000 ons troi.












