kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Harga Produsen AS Melonjak pada Desember 2025, Dipicu Kenaikan Jasa


Jumat, 30 Januari 2026 / 21:23 WIB
Harga Produsen AS Melonjak pada Desember 2025, Dipicu Kenaikan Jasa
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Gary Cameron)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga produsen di Amerika Serikat(AS)  meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Desember, mengindikasikan potensi tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan seiring pelaku usaha mulai meneruskan kenaikan biaya akibat tarif impor.

Melansir Reuters, Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) untuk permintaan akhir naik 0,5% pada Desember, setelah mencatat kenaikan 0,2% pada November, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dirilis Jumat (30/1/2026).

Angka ini melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan kenaikan PPI sebesar 0,2%.

Baca Juga: Venezuela Resmi Mengubah Undang-Undang Migas, Buka Pintu bagi Investasi Minyak Asing

Secara tahunan, PPI meningkat 3,0% dalam 12 bulan hingga Desember, sama seperti laju kenaikan pada November.

BLS juga menyampaikan bahwa saat ini pihaknya telah mengejar ketertinggalan rilis data PPI dan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang sebelumnya tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan federal selama 43 hari.

Namun, potensi gangguan data kembali membayangi karena Partai Republik dan Demokrat di Senat AS masih berpacu menghindari penutupan pemerintah lanjutan yang bisa terjadi pada tengah malam, yang berisiko menunda rilis data penting lainnya, termasuk laporan ketenagakerjaan Januari pekan depan.

Kenaikan PPI Desember terutama didorong oleh lonjakan harga sektor jasa sebesar 0,7%.

Baca Juga: Donald Trump Menunjuk Kevin Warsh sebagai Calon Ketua Federal Reserve Selanjutnya

Sekitar dua pertiga dari kenaikan tersebut berasal dari melonjaknya margin jasa perdagangan permintaan akhir sebesar 1,7%, yang mencerminkan perubahan margin keuntungan yang diterima pedagang grosir dan ritel.

Sejumlah pelaku usaha sebelumnya menyerap sebagian dampak tarif impor luas yang diberlakukan Presiden Donald Trump, sehingga inflasi tidak langsung melonjak tajam.

Namun, data terbaru menunjukkan tekanan biaya mulai diteruskan ke tingkat produsen.

Bank Sentral AS (The Fed) pada Rabu lalu mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75%.

Baca Juga: AstraZeneca Investasi US$ 18,5 Miliar di China, Kejar 20 Obat Baru

Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan lonjakan inflasi sebagian dipicu oleh tarif, namun menilai tekanan tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun.

Sementara itu, harga barang-barang produsen tercatat tidak berubah pada Desember, menandakan tekanan inflasi masih terkonsentrasi di sektor jasa.

Selanjutnya: Venezuela Resmi Mengubah Undang-Undang Migas, Buka Pintu bagi Investasi Minyak Asing

Menarik Dibaca: Ini Kiat Coffeenatics Mengembangkan Usaha Kopi Lokal hingga Tembus Pasar Global




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×