Indeks Manufaktur China Melorot, Kebijakan Zero Covid Membuat Pabrik di China Lesu

Senin, 31 Oktober 2022 | 16:33 WIB   Reporter: Diki Mardiansyah
Indeks Manufaktur China Melorot, Kebijakan Zero Covid Membuat Pabrik di China Lesu

ILUSTRASI. Aktivitas pabrik manufaktur di China secara tak terduga turun pada bulan Oktober 2022.


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas pabrik manufaktur di China secara tak terduga turun pada bulan Oktober 2022. Pabrik di China terbebani permintaan global yang melemah dan kebijakan pembatasan yang ketat akibat Covid-19. Akibatnya, produksi, perjalanan, hingga pengiriman dan kegiatan ekonomi di China menurun.

Ada beberapa hal yang membuat aktivitas pbarik dan konsumen melemah di bulan Oktober ini. Di antaranya, pertumbuhan ekonomi di China pada kuartal III di luar ekpestasi, kebijakan pembatasan Covid-19 yang terus berjalan, kemerosotan industri properti yang berkepanjangan, hingga risiko resesi global.

Dikutip dari Reuters, Senin (31/10), Biro Statistik Nasional atau the National Bureau of Statistics (NBS) menyebut, indeks manajer pembelian manufaktur atau purchasing managers' index (PMI) China turun menjadi 49,2 pada Oktober 2022 dari bulan September 2022 yang sebesar 50,1.

"PMI resmi menunjukkan kehilangan momentum di bulan ini akibat Covid-19 yang memburuk dan permintaan ekspor yang melemah," kata Zichun Huang, ekonom di Capital Economics dalam catatan penelitiannya.

Baca Juga: Bank Sentral China Menegaskan Kembali akan Meningkatkan Dukungan Ekonomi Riil

Sementara itu, PMI non-manafaktur seperti sektor jasa China juga melorot menjadi 48,7 dari 50,6 pada bulan September.

Hingga pekan kemarin, 31 kota di China sudah menerapkan berbagai tingkat pembatasan ketat atau semacam tindakan pengendalian berbasis distrik. Hal tersebut memengaruhi sekitar 232 juta orang

Para ekonom memandang, kebijakan Zero Covid di China saat ini sebagai penyebab utama lesunya perekonomian di China. Apalagi, kebijakan Zero Covid akan tetap berlaku untuk beberapa waktu ke depan.

Sekadar informasi, kebijakan Zero Covid menimbulkan kekhawatiran bahwa kepemimpanan Beijing yang baru lebih memprioritaskan pengendalian Covid-19 di atas pertumbuhan ekonomi China.

Langkah-langkah pembatasan Covid dianggap mengganggu pabrik produksi pembuat iPhone, Foxconn. Pekerja migran juga meninggalkan tempat perakitan secara massal di kota Zhengzhou yang dilanda Covid di tengah kekhawatiran akan infeksi Covid.

Reuters melaporkan, kelesuan di pabrik Zhengzou berdampak pada pemangkasan produksi iPhone hingga 30% di bulan November.

Huang bilang, kegiatan ekspor yang lambat, pasar properti yang tertekan, dan pelemahan mata uang yuan terhadap dolar AS menyebabkan prospek ekonomi di China terbebani.

Ekonom memperkirakan, China akan kehilangan target pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 5,5%. Adapun, jajak pendapat yang dilakukan Reuters menyebut, pertumbuhan ekonomi China di tahun 2022 ini sebesar 3,2%. Jajak pendapat menunjukkan, pertumbuhan ekonomi di China juga akan meningkat menjadi 5,0% pada 2023.

Sementara itu, Kepala Ekonom di Jones Lang Lasalle Bruce Pang mengatakan, China perlu mempercepat proyek-proyek besar dan memperluas investasi di kuartal keempat sebagai upaya untuk menstabilkan ekonomi.

Baca Juga: Penjualan Chip Global Kontraksi untuk Pertama Kali Sejak Tahun 2020, Ini Penyebabnya
 

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru