kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Indeks Sentimen Industri Thailand Capai Titik Terendah dalam 2 Tahun


Rabu, 17 Juli 2024 / 11:37 WIB
ILUSTRASI. FILE PHOTO: A Thailand Baht note is seen in this illustration photo June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD - SEARCH GLOBAL BUSINESS 18 DEC FOR ALL IMAGES.


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Indeks sentimen industri Thailand turun untuk bulan ketiga berturut-turut hingga mencapai titik terendah dalam dua tahun pada bulan Juni.

“Akibat ekonomi yang melambat, permintaan yang lemah, dan masalah utang macet,” demikian disampaikan oleh Federasi Industri Thailand (FTI) pada hari Rabu (17/7).

FTI melaporkan bahwa indeks sentimen industri turun menjadi 87,2 pada bulan Juni dari 88,5 pada bulan Mei.

Baca Juga: Thailand Beri Stimulus UMKM dengan Beri Pinjaman Berbunga Murah

Selain itu, ketidakpastian politik turut mengurangi kepercayaan pelaku usaha. Sementara perusahaan-perusahaan kecil menghadapi masalah likuiditas karena bank memperketat pinjaman, menurut pernyataan FTI.

Perdana Menteri Srettha Thavisin menghadapi kasus di Mahkamah Konstitusi yang bisa berujung pada pemecatannya.

Ia menyangkal melakukan kesalahan dan sidang berikutnya di pengadilan tersebut dijadwalkan pada 24 Juli.

FTI juga mencatat bahwa sektor pariwisata, sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi Thailand, terus memberikan dukungan bagi ekonomi.

Baca Juga: Menteri Keuangan Thailand: Ekonomi Tidak Baik dengan Pertumbuhan Memburuk

Thailand menerima 18,9 juta wisatawan asing dari awal tahun hingga 14 Juli, naik 34% dari tahun sebelumnya, dengan sekitar 3,7 juta di antaranya berasal dari China, menurut data pemerintah.

Pemerintah memperkirakan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara ini akan tumbuh 2,5% tahun ini, setelah mengalami pertumbuhan sebesar 1,9% tahun lalu yang tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga.




TERBARU

[X]
×