Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah India memberlakukan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU guna mencegah kelangkaan pasokan domestik di tengah terganggunya rantai pasok energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan perintah pemerintah yang diterbitkan pada Kamis (12/6/2026), konsumen komersial tidak lagi diperbolehkan membeli bensin maupun solar dari SPBU ritel. Selain itu, pembelian solar dibatasi maksimal 200 liter per pelanggan atau kendaraan per hari.
Baca Juga: Rupiah dan Won Korea Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Jumat (12/6) Pagi
Pemerintah juga menegaskan bahwa solar yang dibeli tidak boleh dijual kembali.
Kebijakan ini muncul setelah banyak konsumen komersial, seperti perusahaan truk dan logistik, beralih membeli solar di SPBU ritel milik perusahaan energi negara karena harganya lebih murah dibandingkan pasokan curah (bulk supply). Kondisi tersebut memicu kekurangan stok di sejumlah SPBU di berbagai wilayah.
Dalam keterangannya, pemerintah India menyebut langkah tersebut diperlukan untuk memastikan ketersediaan bensin dan solar yang merata di seluruh negeri, mencegah penimbunan dan pengalihan distribusi, serta menjaga pasokan energi tetap tersedia dengan harga yang wajar.
Tekanan pada perusahaan energi negara
Kebijakan ini juga bertujuan mengurangi tekanan keuangan yang dialami perusahaan energi milik negara.
Saat ini, penjualan solar kepada konsumen ritel menyebabkan kerugian sekitar 36,5 rupee per liter bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Sementara untuk bensin, kerugian mencapai sekitar 9 rupee per liter.
Baca Juga: Putri Sulung Raja Thailand Wafat di Usia 47 Tahun Setelah Hampir Empat Tahun Koma
Sebaliknya, penjualan BBM kepada pelanggan industri dilakukan dengan harga pasar yang lebih tinggi sehingga lebih menguntungkan.
Tiga perusahaan energi negara yang terdampak langsung adalah: Indian Oil Corporation, Bharat Petroleum Corporation, dan Hindustan Petroleum Corporation.
Ketiga perusahaan tersebut menguasai sekitar 90% dari lebih dari 100.000 SPBU yang beroperasi di India.
Dampak konflik Timur Tengah
Dalam perintah tersebut, pemerintah India secara khusus menyoroti perang antara AS, Israel, dan Iran yang telah menekan rantai pasok minyak global, mengganggu logistik pengiriman, serta memengaruhi ketersediaan produk energi.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Melonjak 8% Jumat (12/6), Harapan Damai AS-Iran Picu Reli
Sebagai negara yang merupakan eksportir bersih produk bahan bakar hasil kilang, India sebenarnya masih memiliki kapasitas pasokan yang memadai.
Namun lonjakan permintaan domestik pada harga bersubsidi dinilai dapat mengganggu stabilitas distribusi dan profitabilitas perusahaan energi negara.
Pembatasan ini akan berlaku selama maksimal 90 hari ke depan, kecuali dicabut lebih awal melalui keputusan pemerintah berikutnya.













