kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 18.024   -18,00   -0,10%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Inflasi AS Terlalu Tinggi, Pejabat The Fed Ini Sebut Perlu Pengetatan Moneter


Rabu, 05 Agustus 2026 / 07:43 WIB
Diperbarui Rabu, 05 Agustus 2026 / 07:45 WIB
Inflasi AS Terlalu Tinggi, Pejabat The Fed Ini Sebut Perlu Pengetatan Moneter
ILUSTRASI. Gedung Federal Reserve (The Fed) (Leah Millis/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - KANSAS. Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid mengatakan, pengetatan kebijakan moneter diperlukan untuk mengembalikan inflasi Amerika Serikat (AS) yang terlalu tinggi ke target 2%.

"Perekonomian tampaknya berkinerja baik, dengan pengecualian yang mencolok pada inflasi," kata Schmid dalam naskah pidato yang akan disampaikan pada acara yang diselenggarakan oleh Federal Reserve Bank of Kansas City mengenai isu-isu pertanian seperti dikutip Reuters, Selasa (4/8/2026).

Kekhawatiran utama Schmid adalah inflasi dan mengingat data terbaru, kebijakan moneter tampaknya tidak bersifat restriktif maupun menekan tekanan harga tersebut. "Oleh karena itu, saya yakin bahwa menurunkan inflasi ke target 2% The Fed akan memerlukan kebijakan yang lebih ketat," ujarnya.

Pejabat tersebut, yang saat ini tidak memiliki hak suara dalam Federal Open Market Committee (FOMC) yang menetapkan suku bunga, tidak menyebutkan kapan atau seberapa besar ia ingin The Fed menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Defisit Perdagangan AS Menyempit di Bulan Juni 2026

Pernyataan Schmid ini merupakan yang pertama sejak pertemuan FOMC pekan lalu. Saat itu, para pejabat memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga federal funds tetap di angka 3,5% hingga 3,75% di tengah kekhawatiran berkepanjangan bahwa inflasi terlalu tinggi.

Tiga pejabat The Fed memberikan suara mendukung kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan harga, dan pejabat lain yang berbicara dalam beberapa hari terakhir telah mengisyaratkan keterbukaan untuk menaikkan suku bunga, bergantung pada perkembangan ekonomi.

Pasar memperkirakan adanya kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, tantangan bagi para investor dan pelaku pasar adalah sikap Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, yang enggan memberikan panduan apa pun mengenai pandangannya terhadap kebijakan suku bunga. Serta minimnya rincian mengenai bagaimana ia memandang penetapan kebijakan suku bunga tersebut.

Dalam pernyataannya, Schmid memperingatkan agar tidak mengabaikan inflasi yang dipicu oleh guncangan pasokan, seraya mencatat bahwa penurunan harga energi yang sempat terjadi belakangan ini ternyata hanya berlangsung singkat, di tengah dinamika yang terus berubah terkait konflik Timur Tengah di era Presiden Donald Trump.

"Meskipun data inflasi terbaru untuk bulan Juni menunjukkan perlambatan yang menggembirakan, terlalu dini untuk memberikan bobot berlebih pada satu titik data saja dibandingkan dengan tren terkini," ujar Schmid.

Ia menambahkan, dengan kembali naiknya harga minyak, belum dapat dipastikan seberapa bertahan lama dampak positif terhadap harga energi tersebut.

Schmid juga menyoroti bahwa tingkat inflasi inti masih terlalu tinggi dibandingkan dengan target 2% yang ditetapkan The Fed. Menurut Schmid, investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) turut mendorong kenaikan inflasi dengan cara yang tidak dapat diabaikan oleh The Fed.

Baca Juga: AS Siapkan Tarif dan Harga Minimum Polysilicon, Tekan Dominasi China di Industri Chip


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×