Sumber: Business Insider | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Ekonom dari Cato Institute ini juga menilai keputusan China tidak perlu dilihat sebagai ancaman geopolitik besar bagi AS.
Ia menilai banyak pihak terlalu melebih-lebihkan seberapa besar kepemilikan utang AS oleh China.
“Orang-orang terlalu melebih-lebihkan seberapa besar nilai utang pemerintah AS yang benar-benar dimiliki China. Jumlahnya tidak cukup besar untuk menjatuhkan pasar AS,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa jika terjadi aksi jual besar-besaran, dampak ke pasar tetap akan terasa. Namun, menurutnya, skenario tersebut kecil kemungkinan terjadi.
Liqian Ren (WisdomTree Asset Management)
Ren melihat langkah China ini lebih bernuansa geopolitik dibandingkan pendapat para analis lainnya.
“Langkah ini sebagian besar bersifat geopolitik, sementara faktor keuangan menjadi sekunder,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa China masih menggunakan US Treasury sebagai bagian dari manajemen nilai tukar, sehingga likuidasi besar-besaran dalam waktu dekat kecil kemungkinannya.
Namun, ia menilai persiapan menghadapi potensi konflik regional, termasuk di sekitar Jepang atau Selat Taiwan, mendorong kedua negara untuk mengurangi ketergantungan finansial satu sama lain.
Menurut Ren, China kemungkinan tidak akan kembali menjadi pembeli bersih utang pemerintah AS sampai tercapai keseimbangan baru dalam hubungan kedua negara.
Tonton: Prabowo Kucurkan Rp 911 Miliar untuk Diskon Transportasi Lebaran 2026
Yan Wang (Alpine Macro)
Kepala strategi China di Alpine Macro menilai kebijakan ini terutama terkait dengan manajemen risiko, meskipun faktor geopolitik juga berperan.
“China telah mengurangi kepemilikan aset AS, khususnya US Treasury, dalam beberapa tahun terakhir, dan lajunya meningkat tajam sejak invasi Rusia ke Ukraina,” ujarnya.
Menurut Wang, tujuan strategis utama Beijing adalah mengurangi kerentanan terhadap potensi sanksi AS dalam kondisi tekanan geopolitik yang ekstrem.
Ia memperkirakan China akan terus mengurangi kepemilikan utang pemerintah AS. Saat ini, US Treasury diperkirakan mencakup sekitar 20% dari cadangan devisa China, angka yang dinilai sudah berada di atas tingkat kenyamanan pemerintah China.













