Sumber: Business Insider | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China dikabarkan menginstruksikan bank-banknya untuk mengurangi kepemilikan surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) pekan ini. Langkah tersebut langsung memicu kembali perbincangan soal narasi “Sell America” di pasar global.
Melansir Business Insider, regulator China menyebut kebijakan ini berkaitan dengan risiko volatilitas dan konsentrasi pada aset utang AS. Secara resmi, langkah tersebut tidak secara langsung ditujukan sebagai kritik terhadap sistem keuangan global berbasis dolar.
Namun, para pengamat pasar melihat kebijakan ini sebagai bagian dari dinamika geopolitik yang semakin memengaruhi pergerakan pasar dalam setahun terakhir.
Bloomberg melaporkan bahwa bank-bank China secara kolektif memegang sekitar US$ 298 miliar obligasi berdenominasi dolar AS. Meski begitu, belum diketahui secara pasti berapa porsi yang benar-benar merupakan US Treasury, dibandingkan dengan obligasi korporasi AS atau instrumen lainnya.
Sejauh ini, dampaknya terhadap imbal hasil (yield) US Treasury masih terbatas. Namun, para ekonom dan pelaku pasar menilai kebijakan ini bisa menimbulkan efek lanjutan di masa depan.
Berikut pandangan para pakar:
Baca Juga: Laba ANZ Melonjak 17%, Saham Cetak Rekor Usai Program Efisiensi
Desmond Lachman (American Enterprise Institute)
Peneliti senior di lembaga pemikir kebijakan ekonomi ini menyatakan kekhawatiran besar terhadap dampak keputusan China bagi Amerika Serikat, terutama karena negara lain juga mulai mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar.
Menurutnya, AS sangat bergantung pada investor asing untuk terus membeli US Treasury guna membiayai kebutuhan fiskal.
“Amerika sangat membutuhkan pembelian US Treasury oleh investor asing. Hal terakhir yang dibutuhkan adalah mereka mulai menjual obligasi pemerintah AS,” ujarnya kepada Business Insider.
Ia menambahkan, investor asing memegang sekitar 30% dari total US Treasury yang beredar.
“Jika pembelian obligasi pemerintah oleh asing mengering, hal itu bisa memicu krisis pasar obligasi dan dolar AS.”
Brad Setser (Council on Foreign Relations)
Setser menilai dampak kebijakan China ini tidak sebesar yang dikhawatirkan sebagian pihak. Ia melihat keputusan tersebut lebih sebagai bagian dari upaya China menstabilkan ekonominya sendiri dan melindungi diri dari volatilitas global.
Menurutnya, investor global seharusnya lebih memperhatikan arus dana yang terkait dengan manajemen nilai tukar yuan.
Baca Juga: Boeing Klaim Lonjakan Kualitas Rantai Pasok, Jam Perbaikan Turun 40%
“Meskipun ada peringatan ini, saya menduga institusi negara China akan kesulitan mencari alternatif yang benar-benar sebanding dengan pasar US Treasury, terutama jika mereka perlu membeli hingga US$ 50 miliar per bulan untuk mengendalikan apresiasi yuan,” katanya.
Jai Kedia (Cato Institute)
Ekonom dari Cato Institute ini juga menilai keputusan China tidak perlu dilihat sebagai ancaman geopolitik besar bagi AS.
Ia menilai banyak pihak terlalu melebih-lebihkan seberapa besar kepemilikan utang AS oleh China.
“Orang-orang terlalu melebih-lebihkan seberapa besar nilai utang pemerintah AS yang benar-benar dimiliki China. Jumlahnya tidak cukup besar untuk menjatuhkan pasar AS,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa jika terjadi aksi jual besar-besaran, dampak ke pasar tetap akan terasa. Namun, menurutnya, skenario tersebut kecil kemungkinan terjadi.
Liqian Ren (WisdomTree Asset Management)
Ren melihat langkah China ini lebih bernuansa geopolitik dibandingkan pendapat para analis lainnya.
“Langkah ini sebagian besar bersifat geopolitik, sementara faktor keuangan menjadi sekunder,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa China masih menggunakan US Treasury sebagai bagian dari manajemen nilai tukar, sehingga likuidasi besar-besaran dalam waktu dekat kecil kemungkinannya.
Namun, ia menilai persiapan menghadapi potensi konflik regional, termasuk di sekitar Jepang atau Selat Taiwan, mendorong kedua negara untuk mengurangi ketergantungan finansial satu sama lain.
Menurut Ren, China kemungkinan tidak akan kembali menjadi pembeli bersih utang pemerintah AS sampai tercapai keseimbangan baru dalam hubungan kedua negara.
Tonton: Prabowo Kucurkan Rp 911 Miliar untuk Diskon Transportasi Lebaran 2026
Yan Wang (Alpine Macro)
Kepala strategi China di Alpine Macro menilai kebijakan ini terutama terkait dengan manajemen risiko, meskipun faktor geopolitik juga berperan.
“China telah mengurangi kepemilikan aset AS, khususnya US Treasury, dalam beberapa tahun terakhir, dan lajunya meningkat tajam sejak invasi Rusia ke Ukraina,” ujarnya.
Menurut Wang, tujuan strategis utama Beijing adalah mengurangi kerentanan terhadap potensi sanksi AS dalam kondisi tekanan geopolitik yang ekstrem.
Ia memperkirakan China akan terus mengurangi kepemilikan utang pemerintah AS. Saat ini, US Treasury diperkirakan mencakup sekitar 20% dari cadangan devisa China, angka yang dinilai sudah berada di atas tingkat kenyamanan pemerintah China.













