Ini Langkah China Selamatkan Sektor Propertinya

Selasa, 15 November 2022 | 15:50 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Ini Langkah China Selamatkan Sektor Propertinya

ILUSTRASI. Kontruksi properti di China. REUTERS/Thomas Peter TPX IMAGES OF THE DAY


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Otoritas China telah meluncurkan langkah-langkah besar untuk menyelamatkan sektor properti yang sedang mengalami keterpurukan. Regulator perbankan dan bank sentral China telah mengeluarkan 16 poin panduan internal terhadap perbankan untuk mendorong pertumbuhan pasar properti pada Jumat (11/11).

Tindakan keras yang dilakukan pemerintah di sektor real estate selama bertahun-tahun dan kebijakan ketat penanganan pandemi Covid-19 memang telah menekan ekonomi China. 

Poin panduan tersebut diantaranya mulai dari langkah untuk mengatasi krisis likuiditas pengembang hingga pelonggaran syarat uang muka pembelian rumah. Perbankan akan didorong mengatasi krisis likuiditas para pengembang yang memiliki utang besar, memberikan dukungan keuangan untuk memastikan penyelesaian dan penyerahan proyek kepada pemilik rumah.

Regulator China dalam pernyataan resminya pada Senin (14/11) mengatakan akan mengizinkan developer untuk mengakses lebih banyak uang dari pra-penjualan rumah, salah satu sumber dana terbesar di industri.

Baca Juga: Dukung Kampanye Kemakmuran Bersama, Eksekutif Senior di China Hadapi Pemotongan Gaji

Upaya penyelamatan itu memang telah lama ditunggu-tunggu, namun analis melihat insentif yang akan diberikan itu mungkin sudah terlambat bagi sebagian orang. Sebab yang akan diselamatkan terlebih dahulu adalah pengembang yang masih bertahan.

Li Kai, Cofounding Partner Beijing Shengao Fund Management mengatakan, insentif kebijakan itu harus segera diberikan pada pengembang berkualitas tinggi seperti Longfor Group Holdings Ltd, Midea Real Estate Holding Ltd, dan Seazen Holdings Co.

“Tapi bagi pengembang yang tidak bisa memberikan banyak aset sebagai jaminan atau yang sudah terlanjur utang atau wanprestasi, efeknya tidak akan secepat itu,” kata Li Kai dikutip Bloomberg, Selasa (15/11).

China juga berusaha menjaga tingkat kas yang cukup dalam sistem keuangannya dengan alat likuiditas dari jatuh tempo yang berbeda, membantu menghentikan aksi jual obligasi pemerintah.

People's Bank of China (PBoC) menyebutkan bahwa infus likuiditas  bulan ini yang sudah dilakukan merupakan kombinasi alat jangka pendek, menengah dan panjang, melebihi utang yang jatuh tempo sebesar 1 triliun yuan,

Rebound tajam saham sektor properti tang terjadi sepanjang November ini telah membuka pintu untuk peningkatan modal. Country Garden Holdings, pengembang terbesar di China  berdasarkan penjualan, mengatakan telah menjual saham HK$3,9 miliar atau sekitar US$ 500 juta setelah harga saham perusahaan naik tiga kali lipat dalam waktu dua minggu.

Sementara itu, unit investasi Longfor berencana untuk menjual sekitar 2 miliar yuan atau sekitar US$ 284 juta surat utang. Rencana itu datang saat regulator meninjau rencana penjualan obligasi 20 miliar yuan Longfor setelah program dukungan kredit yang ditingkatkan. 

Longfor bukan perusahaan yang sangat membutuhkan dana. Perusahaan ini mengumumkan minggu lalu penebusan awal satu-satunya obligasi dolar yang jatuh tempo pada tahun 2023.

Tetapi rekan-rekan yang tertekan memiliki lebih sedikit jalan untuk dimanfaatkan. Tidak ada pengembang yang gagal membayar atau memperpanjang utang yang secara resmi mengumumkan kesepakatan pendanaan apa pun.

Baca Juga: Zelensky Berharap G20 Mau Mengikuti Rencananya untuk Mengembalikan Perdamaian

Obligasi dolar China Evergrande Group dan Sunac China Holdings Ltd hampir tidak bergerak dalam beberapa hari terakhir. Keduanya telah melewatkan pembayaran dan sedang merestrukturisasi utang luar negeri mereka.

Pembayaran yang terlewat telah meningkat selama beberapa minggu terakhir. Greenland Holding Group Co yang terbaru mengumumkan default dan Zhongliang Holdings Group Co bergabung dengan daftar perusahaan yang mengumumkan penangguhan pembayaran atas utang luar negeri.

Namun, investor mengatakan pengembang yang lebih kuat membutuhkan bantuan tambahan untuk diluncurkan sehingga likuiditas meningkat dan permintaan perumahan tumbuh setelah lebih dari satu tahun menurun.

“Masalah terbesar adalah penjualan rumah. Jika penjualan ingin meningkat, perlu ada stimulus yang cukup besar dari sisi permintaan," kata Li dari Shengao.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru