Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato State of the Union di hadapan sidang gabungan Kongres pada Selasa (24/2). Momen ini dinilai krusial bagi Gedung Putih dalam menggalang dukungan pemilih Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Pidato tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran serta ketidakpuasan publik terhadap tingginya biaya hidup. Berikut sejumlah poin utama dari pidato Trump yang menjadi sorotan.
Fokus Utama: Ekonomi dan Biaya Hidup
Dalam pidatonya, Trump menempatkan isu ekonomi sebagai pesan sentral. Ia menyoroti berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari perumahan, layanan kesehatan, tagihan utilitas, keamanan, hingga dana pensiun.
Trump menjanjikan kebijakan kesehatan yang diklaim mampu menekan harga obat-obatan dan menyalurkan pembayaran federal langsung kepada masyarakat guna menghemat biaya.
Ia juga menegaskan bahwa tarif impor yang sebelumnya dibatalkan Mahkamah Agung kini kembali diberlakukan melalui dasar hukum berbeda dan disebut telah menghasilkan pendapatan bagi negara.
Baca Juga: Trump Klaim Rekor Bursa Saham, Janjikan Insentif Dana Pensiun
Menurut Trump, inflasi, suku bunga kredit perumahan, dan harga bahan bakar menunjukkan tren penurunan. Ia juga mengklaim pasar saham, produksi minyak, investasi asing langsung, sektor konstruksi, dan lapangan kerja manufaktur tengah mengalami pertumbuhan.
Namun, data pemerintah menunjukkan inflasi justru meningkat pada tahun lalu, sementara penciptaan lapangan kerja relatif lemah dan sektor manufaktur mengalami penyusutan tenaga kerja. Meski harga sejumlah komoditas seperti telur turun sejak Trump kembali ke Gedung Putih, harga pangan dan kebutuhan pokok secara umum masih meningkat.
Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan 56% responden tidak puas terhadap penanganan ekonomi oleh Trump, sementara 36% menyatakan puas. Sejumlah analis Partai Republik memperingatkan bahwa tanpa pesan yang lebih tegas terkait inflasi, partai berisiko kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilu mendatang.
Nuansa Teater Politik dalam Pidato
Meski tampil relatif disiplin, Trump tetap menghadirkan unsur dramatik dalam pidatonya. Ia menganugerahkan penghargaan dan memperkenalkan sejumlah tamu undangan sebagai simbol narasi politik yang ingin ia bangun.
Trump memberikan penghormatan kepada pilot Angkatan Laut Perang Korea, E. Royce Williams, serta penjaga gawang hoki tim nasional AS, Connor Hellebuyck. Ia juga menyebut nama sejumlah tamu undangan, termasuk Erika, janda aktivis konservatif Charlie Kirk.
Kepada Chief Warrant Officer Angkatan Darat Eric Slover, yang terluka dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro, Trump menganugerahkan Medal of Honor.
Tim hoki es putra AS yang baru meraih emas Olimpiade juga diperkenalkan sebagai bukti bahwa Amerika kembali “menang” di bawah kepemimpinannya.
Sebaliknya, sejumlah tamu lain dijadikan ilustrasi peringatan, termasuk seorang anak korban kecelakaan lalu lintas yang dikaitkan dengan isu imigrasi, serta mahasiswa Liberty University yang disebut dalam konteks kritik terhadap kebijakan sekolah dan isu transgender.
Minim Penjelasan Soal Iran dan Konflik Global
Menjelang pidato, muncul spekulasi apakah Trump akan memaparkan secara rinci alasan urgensi konfrontasi militer dengan Iran, mengingat pengerahan besar pasukan AS di Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Buka Opsi Serangan ke Iran, Tak Akan Biarkan Teheran Miliki Senjata Nuklir
Namun, Iran baru disebut lebih dari satu jam setelah pidato dimulai. Trump kembali menegaskan pentingnya mencegah Teheran memiliki senjata nuklir serta menuduh Iran menyebarkan teror melalui kelompok proksi regional.
Ia tidak menjelaskan secara rinci urgensi tindakan militer atau tujuan strategis yang hendak dicapai. Isu Rusia-Ukraina hanya disinggung sekilas, sementara wacana akuisisi Greenland tidak disebut sama sekali.
Padahal dalam beberapa pekan terakhir, Trump mengirim utusan untuk meredakan konflik di Ukraina dan bernegosiasi dengan Iran. Pemerintahannya juga aktif menangani dinamika politik di Venezuela.
Upaya Rebut Narasi Soal Imigrasi
Isu imigrasi kembali menjadi bagian penting pidato Trump. Topik ini sebelumnya menjadi kekuatan politiknya, namun belakangan memicu kritik, terutama setelah dua warga AS tewas dalam operasi agen imigrasi serta kebijakan deportasi massal menuai kontroversi.
Dalam pidatonya, Trump tidak menyinggung secara langsung peran aparat Patroli Perbatasan dan Imigrasi. Namun ia menggambarkan secara tegas kejahatan yang dilakukan oleh imigran dan menuding Partai Demokrat tidak mampu mengamankan perbatasan.
Pendekatan ini mencerminkan strategi kampanye 2024 yang banyak menekankan ancaman imigrasi, sembari menghindari pembahasan detail taktik penegakan hukum yang menuai kritik.
Perubahan Prioritas Kebijakan
Dibandingkan pidato tahun sebelumnya, sejumlah isu kebijakan luar negeri tidak lagi menjadi fokus utama. Rencana pengambilalihan Terusan Panama dan aneksasi Greenland tidak disinggung. China, yang tahun lalu disebut beberapa kali, absen dari pidato tahun ini seiring pelunakan sikap menjelang kunjungan kenegaraan mendatang.
Pujian terhadap Elon Musk dan Departemen Efisiensi Pemerintah juga tidak lagi muncul. Sebagai gantinya, Trump mengumumkan rencana peluncuran program baru pemberantasan penipuan yang akan dipimpin Wakil Presiden JD Vance.
Baca Juga: Trump Klaim “Zaman Keemasan Amerika” di Pidato Kenegaraan, Ekonomi Jadi Sorotan
Selain itu, Trump mendorong perubahan undang-undang pemilu menjelang pemilu paruh waktu, termasuk penerapan identitas pemilih dan pembatasan surat suara melalui pos.
Serangan Terbuka terhadap Demokrat
Dalam bagian akhir pidato, Trump secara terbuka menyerang Partai Demokrat. Ia menilai Partai Republik layak mempertahankan kendali Kongres karena dinilai berhasil mengelola ekonomi, imigrasi, dan keamanan publik.
Trump menyebut para legislator Demokrat sebagai pihak yang “merusak negara” dan menuduh mereka bertindak tidak demi kepentingan terbaik Amerika Serikat.
Sepanjang pidato, anggota Partai Demokrat tetap duduk tanpa memberikan tepuk tangan, sementara anggota Partai Republik berdiri dan bertepuk tangan dalam berbagai momen. Beberapa anggota Demokrat seperti Al Green, Ilhan Omar, dan Rashida Tlaib bahkan meneriakkan protes.
Polarisasi tajam yang terlihat di ruang sidang mencerminkan dinamika politik AS yang kian terbelah menjelang pemilu paruh waktu, dengan isu ekonomi dan imigrasi sebagai medan pertarungan utama.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)