Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, satu pelelangan karya seni di Sotheby's justru menunjukkan cerita berbeda. Koleksi seni milik miliarder Inggris Joe Lewis berhasil menghasilkan keuntungan fantastis sekitar 3.500% dari harga belinya.
Cerita ini bermula dari empat karya seni yang dilepas dari koleksi pribadi keluarga Lewis dalam sebuah lelang besar awal tahun ini. Karya-karya tersebut berasal dari sejumlah pelukis ternama Inggris seperti Lucian Freud, Francis Bacon, dan Leon Kossoff, tiga nama penting dalam kelompok seniman yang dikenal sebagai School of London.
Hasilnya di luar dugaan. Melansir Bloomberg (7/3) salah satu karya yang paling mencuri perhatian adalah potret diri Francis Bacon yang dibuat pada 1972. Lukisan tersebut terjual seharga £ 13,5 juta pound sterling, melonjak jauh dari harga belinya yang hanya sekitar £ 364.500 pound sterling beberapa dekade lalu.
Kisah ini menegaskan satu hal, di dunia investasi alternatif, karya seni kelas atas masih mampu menghadirkan imbal hasil yang sangat besar.
Bagi keluarga Lewis, koleksi seni bukanlah investasi jangka pendek. Selama bertahun-tahun mereka membangun portofolio yang berfokus pada seniman School of London, kelompok pelukis figuratif yang berkembang pesat setelah Perang Dunia II.
Nama-nama seperti Lucian Freud, Francis Bacon, dan Leon Kossoff dikenal dengan gaya lukisan manusia yang ekspresif, sering kali menggambarkan kondisi psikologis yang kompleks. Karya-karya dari periode ini kini dianggap sebagai salah satu tonggak penting seni modern Inggris.
Empat karya dari koleksi Lewis yang dilepas dalam lelang tersebut secara keseluruhan menghasilkan sekitar £ 29,5 juta pound sterling. Selain potret diri Bacon, tiga karya lainnya terjual dengan total sekitar £ 16 juta pound sterling, bahkan beberapa melampaui estimasi harga tertinggi dari rumah lelang.
CEO Sotheby's Charles F. Stewart mengatakan, koleksi tersebut sebagai salah satu yang terbaik yang pernah ditawarkan di pasar.
Baca Juga: Yogyakarta–Melbourne Terhubung: IndoTekno Hidupkan Denyut Seni Pasca Pandemi
Seni masih bergairah
Lelang tersebut sebenarnya merupakan bagian dari acara yang lebih besar, dengan lebih dari 50 karya seni ditawarkan kepada para kolektor. Total transaksi mencapai £ 131 juta pound sterling, hampir dua kali lipat dibandingkan hasil lelang serupa pada tahun sebelumnya.
Angka ini menarik perhatian pelaku pasar. Pasalnya, sektor barang mewah secara umum justru mencatat penurunan sekitar 2% pada 2025. Artinya, meski konsumsi barang mewah melambat, pasar seni kelas atas masih mampu menarik minat investor global.
Bagi sebagian investor, karya seni memiliki karakteristik unik. Selain bernilai estetika dan historis, aset ini juga kerap dianggap sebagai pelindung nilai ketika pasar keuangan menghadapi volatilitas.
Sang miliarder
Joe Lewis sendiri dikenal sebagai investor yang membangun kekayaan di berbagai sektor, mulai dari properti hingga olahraga dan fesyen. Kekayaannya kini diperkirakan mencapai sekitar US$ 8,8 miliar.
Menariknya, sekitar 12,5% dari portofolionya ditempatkan di pasar seni.
Penjualan sebagian koleksi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk merealisasikan keuntungan dari investasi lama, tanpa sepenuhnya keluar dari pasar seni. Dengan portofolio yang luas, Lewis memiliki fleksibilitas untuk mengatur ulang alokasi asetnya sesuai kondisi pasar.
Di sisi lain, momentum pelelangan juga dianggap tepat. Nilai transaksi pasar seni mulai pulih setelah periode ketidakpastian dalam beberapa tahun terakhir.
Keberhasilan lelang koleksi Lewis juga memberikan sinyal bagi investor lain. Banyak kolektor kini mulai melihat karya seni sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.
Di tengah fluktuasi pasar saham dan ketidakpastian ekonomi global, aset alternatif seperti seni, barang koleksi, hingga properti unik semakin diminati.
Namun pasar ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan instrumen investasi konvensional. Likuiditasnya terbatas, valuasi sangat bergantung pada reputasi seniman, dan keberhasilan investasi sering kali ditentukan oleh kurasi koleksi yang tepat.
Kasus koleksi Lewis menunjukkan bahwa kesabaran memainkan peran penting. Dengan memegang karya seni berkualitas tinggi selama puluhan tahun, nilai investasi bisa meningkat berlipat ganda.
Baca Juga: Permintaan Lesu, Balai Lelang Seni Top Dunia Restrukturisasi
Tolok ukur
Bagi industri seni global, hasil lelang di Sotheby's ini berpotensi menjadi tolok ukur bagi transaksi berikutnya, terutama untuk karya seni dari periode pasca-Perang Dunia II.
Keberhasilan tersebut juga bisa mendorong lebih banyak kolektor untuk melepas sebagian koleksinya ke pasar. Jika itu terjadi, likuiditas pasar seni berpotensi meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Pada akhirnya, kisah koleksi Joe Lewis menjadi contoh bagaimana seni tidak hanya menjadi simbol prestise, tetapi juga instrumen investasi yang mampu menghasilkan keuntungan besar, asal dipilih dengan cermat dan disimpan cukup lama.













