Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Produsen baterai kendaraan listrik asal China, CATL, berhasil menghimpun dana sebesar HK$ 39,2 miliar (sekitar US$ 5 miliar) pada hari Selasa (28/4/2026). Hal ini didorong tingginya minat investor terhadap saham energi hijau, seiring perang Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dan mempercepat peralihan global dari bahan bakar fosil.
Penggalangan dana ini terjadi ketika ekspor China untuk produk tenaga surya, baterai, dan kendaraan listrik mencapai rekor tertinggi pada bulan Maret, menurut lembaga pemikir energi Ember. Ini menjadi tanda bahwa lonjakan harga minyak mempercepat pergeseran global menuju energi bersih, sektor yang didominasi oleh CATL.
Perusahaan ini menguasai 38,1% pangsa pasar baterai kendaraan listrik global dalam sepuluh bulan pertama tahun 2025, menurut firma riset Korea Selatan SNE Research, menjadikannya produsen baterai terbesar di dunia.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Investor Cermati Negosiasi AS-Iran dan Arah Suku Bunga Bank Sentral
CATL, yang memasok baterai untuk Tesla, BMW, Volkswagen, Xiaomi, dan Nio, menetapkan harga 62,4 juta saham H baru sebesar HK$ 628,20 per saham di batas bawah kisaran harga yang ditawarkan, menurut pengajuan ke bursa saham pada hari Selasa.
Saham tersebut dijual dengan diskon 7% dibanding harga penutupan hari Senin sebesar HK$ 675,50. Saham dibuka turun 6,7% pada hari Selasa dan melemah 7,6% menjadi HK$ 624 menjelang tengah hari.
Penggalangan dana ini merupakan penawaran saham terbesar di Hong Kong sejauh tahun ini, serta yang terbesar sejak pencatatan CATL sendiri senilai US$ 5,25 miliar pada Mei lalu yang menjadi penawaran saham terbesar di dunia pada 2025, menurut data LSEG.
Secara global, ini merupakan transaksi ekuitas terbesar kedua tahun ini, setelah penjualan lanjutan Galderma Group senilai US$ 6,26 miliar pada bulan Maret.
Langkah ini diambil saat CATL berekspansi ke luar negeri sambil menghadapi persaingan ketat di pasar kendaraan listrik Tiongkok, di mana pertumbuhan penjualan yang cepat belum sepenuhnya menghasilkan keuntungan yang stabil.
Para analis menilai waktu aksi ini cerdas, meskipun oportunistik.
Baca Juga: Harga Minyak Naik 1%, Didorong Kebuntuan Negosiasi Perdamaian Perang Iran
“Bahkan pada harga terendah, CATL tidak kebal terhadap repricing geopolitik. Ini adalah transaksi penting senilai US$ 5 miliar,” kata Winston Ma, direktur eksekutif Global Public Investment Funds Forum dan mantan direktur pelaksana China Investment Corporation.
“CATL sedang menangkap momentum yang sempurna harga saham yang melonjak, gangguan pasokan bahan bakar fosil, dan pasar Hong Kong yang kembali haus akan saham teknologi kelas berat,” tambahnya.
Dickie Wong, direktur riset di uSMART Securities, setuju namun menyoroti valuasi yang tinggi.
“Penggalangan dana saham H ini tampaknya oportunistik. Saham H saat ini diperdagangkan dengan premi 35% dibanding saham A, dengan jumlah saham beredar yang jauh lebih kecil. Penempatan ini dapat meningkatkan likuiditas dan menarik investor internasional jangka panjang serta dana indeks,” katanya.
“Namun, dengan valuasi yang sudah tinggi dan adanya aksi jual sebagian saham oleh Sinopec serta investor besar lainnya, ini terlihat seperti langkah cerdas untuk menambah dana di harga yang sedang tinggi,” tambahnya.
Saham CATL yang tercatat di Hong Kong telah melonjak sekitar 137% dari harga IPO HK$263 pada Mei 2025. Sementara itu, sahamnya di Shenzhen naik sekitar 16% sejak awal tahun, dengan valuasi perusahaan sekitar US$ 293,9 miliar, menurut data LSEG.
Pekan lalu, unit Sinopec menjual 8,5 juta saham CATL di Hong Kong senilai sekitar US$ 770 juta, memanfaatkan kenaikan harga. Pada bulan Maret, CATL melaporkan laba bersih kuartal keempat dan tahunan 2025 yang tertinggi di pasar.
Baca Juga: Baht Thailand Anjlok Terdalam Selasa (28/4) Pagi, Rupiah Ikut Tergerus di Pasar Asia
Dana hasil penawaran ini akan digunakan untuk ekspansi pabrik global, pengembangan bisnis nol karbon, penelitian dan pengembangan, serta kebutuhan operasional umum, menurut dokumen perusahaan.












