Sumber: Bloomberg | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Elon Musk melalui perusahaannya, SpaceX, mencetak sejarah dengan melakukan penawaran umum perdana (IPO) terbesar sepanjang masa. Namun, ada satu aspek di mana pencapaian ini masih kalah dibanding beberapa IPO lainnya.
IPO Space Exploration Technologies Corp, nama resmi perusahaan roket, satelit, dan kecerdasan buatan itu, berhasil menarik lebih dari US$ 100 miliar dari investor ritel, menurut sumber yang mengetahui urusan ini. Meski jumlah tersebut sangat besar secara standar global, angka ini tetap kalah dibanding beberapa IPO paling fenomenal di China daratan dan Hong Kong.
Di Shanghai, IPO perusahaan chip China, MetaX Integrated Circuits Shanghai Co, pada akhir 2025 menarik sekitar tiga triliun yuan (setara US$ 444 miliar) dari investor ritel. Sementara itu, IPO jaringan minuman bubble tea Mixue Group di Hong Kong tahun lalu, yang senilai US$ 511 juta, mencatat lebih dari HK$ 1,8 triliun (sekitar US$ 230 miliar) adalah permintaan investor ritel. Jumlah tertinggi untuk kategori tersebut setidaknya dalam 10 tahun terakhir, menurut data bursa yang dipantau TradeGo FinTech Ltd.
Baca Juga: IPO SpaceX Pecahkan Rekor, Elon Musk Resmi Jadi Triliuner Pertama Dunia
Antusiasme tinggi terhadap IPO di China daratan didorong oleh keuntungan besar pada hari pertama perdagangan, yang hampir bisa dipastikan karena regulator sengaja menahan valuasi debut agar tetap rendah. Prosesnya pun mirip undian: tanpa perlu membayar di muka, jutaan orang ikut memasang bid dengan peluang mendapatkan saham minim risiko.
Di Hong Kong, investor ritel memanfaatkan pinjaman margin dari broker untuk memperkuat taruhan mereka pada IPO, terdorong pula oleh rasa takut ketinggalan kesempatan membeli saham “next tech giant”.
Data TradeGo menunjukkan, penjualan saham perdana di Hong Kong tahun ini telah menarik total permintaan ritel lebih dari HK$ 16 triliun, hampir setara dengan seluruh permintaan investor ritel di semua IPO Hong Kong sepanjang tahun lalu.
IPO SpaceX sendiri belum tersedia untuk investor di China daratan dan Hong Kong. Menurut sumber, underwriter diperintahkan untuk tidak menerima pesanan dari kedua wilayah tersebut karena pembatasan AS terkait ekspor teknologi kritis.
Di sisi lain, IPO di Hong Kong dan China daratan tahun ini banyak digerakkan oleh perusahaan yang berada dalam rantai pasokan pembangunan kecerdasan buatan, di tengah persaingan teknologi antara kedua negara. Menurut Bloomberg Intelligence, IPO baru di Hong Kong diperkirakan akan menembus US$ 43 miliar tahun ini, angka tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Di China daratan, regulator sekuritas secara selektif membuka kembali peluang IPO setelah sempat membatasi pencatatan saham baru pada 2023. Beberapa perusahaan yang tengah mempersiapkan IPO termasuk raksasa chip memori ChangXin Memory Technologies Inc, yang menargetkan penggalangan dana minimal 29,5 miliar yuan, serta LandSpace Technology Co, pembuat roket milik China.













