Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Iran pada Senin (23/3/2026) membantah telah melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat, setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap jaringan listrik Iran.
Penundaan itu sebelumnya disebut Trump sebagai hasil dari pembicaraan “produktif” dengan pejabat Iran yang tidak disebutkan identitasnya.
Mengutip Reuters, seorang pejabat Eropa mengungkapkan bahwa memang tidak ada pembicaraan langsung antara kedua negara. Namun, sejumlah negara seperti Mesir, Pakistan, dan negara-negara Teluk disebut menjadi perantara dalam penyampaian pesan.
Bahkan, menurut sumber Pakistan dan sumber lain, pembicaraan langsung untuk mengakhiri konflik berpotensi digelar di Islamabad dalam waktu dekat.
Trump Klaim Ada “Kemajuan Besar”
Melalui platform Truth Social, Trump menyebut bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” untuk mencapai “penyelesaian total konflik di Timur Tengah”.
Sebagai hasilnya, ia menunda selama lima hari rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Baca Juga: Trump Tunda Mengebom Jaringan Listrik Iran, Tiga Negara Ini Jadi Mediator
Pernyataan ini langsung berdampak ke pasar:
- Harga saham global naik
- Harga minyak anjlok tajam hingga di bawah US$100 per barel
Padahal sebelumnya, pasar sempat terguncang akibat ancaman serangan dari AS dan respons keras Iran.
Trump juga mengatakan utusannya, Steve Witkoff, bersama menantunya Jared Kushner, telah berdiskusi dengan pejabat tinggi Iran hingga Minggu malam dan akan melanjutkan pembicaraan.
“Kami punya banyak kesepakatan penting, bahkan hampir di semua poin,” kata Trump.
Baca Juga: Tokio Marine Jual Saham ke Berkshire Hathaway, Bentuk Kemitraan Strategis
Iran: Itu Hoaks
Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, langsung membantah klaim tersebut.
Ia menyebut tidak ada negosiasi dengan AS dan menuding kabar itu sebagai upaya manipulasi pasar.
“Tidak ada negosiasi dengan AS. Ini adalah berita palsu untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus membalas serangan hingga tujuan mereka tercapai.
Ketegangan Militer Justru Meningkat
Pasukan elit Iran, Garda Revolusi (IRGC), mengumumkan serangan baru terhadap target AS dan Israel.
Mereka menyebut pernyataan Trump sebagai “operasi psikologis” yang tidak berpengaruh terhadap sikap Iran.
IRGC mengklaim telah menyerang sejumlah kota di Israel, termasuk Dimona dan Tel Aviv, serta beberapa pangkalan militer AS.
Militer Israel juga mengonfirmasi adanya peluncuran rudal dari Iran pada Senin malam, bahkan terdengar ledakan intersepsi di wilayah Yerusalem.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya akan terus melanjutkan serangan di Lebanon dan Iran, meski tetap membuka peluang penyelesaian melalui kesepakatan.
Selat Hormuz Jadi Kunci Risiko Global
Di tengah konflik, Iran masih menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Trump mendesak Iran untuk membuka jalur tersebut, namun Teheran menegaskan tidak akan melakukannya sebelum AS dan Israel menghentikan serangan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan berdiskusi dengan Oman untuk meredakan ketegangan, menandakan adanya upaya diplomasi di balik konflik.
Tonton: Pertamina Tingkatkan Impor LPG dari AS hingga 70% sejak Awal 2026
Potensi Negosiasi di Pakistan
Seorang pejabat Pakistan menyebut Wakil Presiden AS JD Vance, bersama Witkoff dan Kushner, kemungkinan akan bertemu pejabat Iran di Islamabad pekan ini.
Namun, Gedung Putih belum mengonfirmasi rencana tersebut dan menegaskan bahwa pembahasan diplomatik masih sangat sensitif.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran.













