Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah kedua negara mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap target-target militer masing-masing.
Kedua pihak juga saling menuding sebagai pihak yang bertindak agresif di tengah mandeknya upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa pada akhir pekan lalu mereka menyerang sistem pertahanan udara Iran, sebuah stasiun kendali darat, dan dua drone yang dianggap mengancam kapal-kapal di kawasan tersebut. Washington menyebut tindakan itu sebagai respons atas "aksi agresif Iran", termasuk penembakan jatuh sebuah drone AS di wilayah perairan internasional.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin (1/6/2026) mengumumkan telah menargetkan sebuah pangkalan udara yang digunakan oleh militer AS sebagai balasan atas serangan yang terjadi di wilayah selatan Iran.
Baca Juga: BYD Akhiri Paceklik Penjualan Delapan Bulan, Ekspor Melonjak 80%
Iran tidak mengungkapkan lokasi pangkalan udara yang menjadi sasaran. Namun, Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udaranya pada hari yang sama dan mengecam serangan rudal serta drone Iran yang dinilai menghambat upaya penurunan ketegangan di kawasan.
Israel Perluas Operasi Militer ke Lebanon
Harga minyak dunia, yang telah melonjak sejak pecahnya perang, kembali menguat lebih dari 3% pada Senin setelah terjadinya serangan terbaru tersebut.
Ketegangan regional juga meningkat setelah Israel memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon untuk menghadapi kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Konflik tersebut kembali memanas setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada awal April lalu, AS dan Iran masih sesekali saling melancarkan serangan. Pakistan diketahui menjadi mediator dalam upaya mencari kesepakatan damai yang lebih permanen.
Pertukaran serangan yang terjadi pada Kamis pekan lalu juga digambarkan dengan narasi yang hampir sama oleh kedua belah pihak, yakni sebagai respons terhadap tindakan agresif lawan.
Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik tersebut juga menimbulkan tekanan terhadap perekonomian global akibat kenaikan harga energi setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Trump: Iran Ingin Mencapai Kesepakatan
Dalam unggahan media sosial pada larut malam, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tidak menyinggung secara langsung pertukaran serangan terbaru.
Sebaliknya, Trump kembali menegaskan keyakinannya bahwa Iran "benar-benar ingin mencapai sebuah kesepakatan".
Ia juga mengkritik para pengkritik proses negosiasi, termasuk kelompok yang ia sebut sebagai "Partai Republik yang tampaknya tidak patriotik", karena terus memberikan komentar negatif terkait pembicaraan damai.
Baca Juga: Inggris Tambah Ratusan Rudal Anti-Drone, Perkuat Operasi di Timur Tengah
"Duduk saja dan tenanglah, semuanya akan berakhir dengan baik pada akhirnya — dan memang selalu demikian!" tulis Trump.
Namun demikian, pernyataan Trump tidak meredakan kritik dari pihak Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuduh Washington terus mengubah posisi negosiasinya dan mengecam apa yang disebutnya sebagai tindakan agresif Amerika Serikat.
Menurut Baghaei, pengiriman pesan yang saling bertentangan tidak akan efektif sebagai strategi negosiasi. Ia mendesak Washington untuk segera mengambil posisi yang jelas dan final.
"Negosiasi dimulai dalam kondisi penuh kecurigaan dan ketidakpercayaan yang mendalam, dan pertukaran pesan berlangsung dalam suasana tersebut," ujar Baghaei.
Ia menambahkan, "Pihak lain terus mengubah pandangannya dan mengajukan tuntutan baru atau bahkan saling bertentangan. Wajar jika kondisi seperti ini memperpanjang proses negosiasi."
Baghaei juga menegaskan bahwa Teheran memandang tindakan Israel di kawasan, termasuk di Lebanon, tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Amerika Serikat.
Perbedaan Sikap Masih Menjadi Penghalang
Trump saat ini menghadapi tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menurunkan harga bensin di Amerika Serikat menjelang pemilihan legislatif pada November mendatang. Meningkatnya harga energi telah memicu ketidakpuasan di kalangan pemilih.
Di sisi lain, Trump juga menghadapi tekanan politik dari kelompok garis keras terhadap Iran di dalam Partai Republik yang menolak adanya konsesi terlalu besar kepada Teheran.
Trump menegaskan bahwa tujuan utama perang adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir melalui cadangan uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi. Namun, Teheran terus membantah memiliki rencana untuk membangun arsenal nuklir.
Baca Juga: Perang Iran Belum Goyahkan Industri India, Output Pabrik Tumbuh 4,9%
Selain isu nuklir, kedua negara masih berselisih mengenai sejumlah persoalan lain, termasuk tuntutan Iran agar sanksi ekonomi dicabut dan puluhan miliar dolar pendapatan minyak Iran yang dibekukan di bank-bank luar negeri dapat dicairkan kembali.
Konflik Israel dengan Hezbollah di Lebanon juga menjadi hambatan serius dalam proses diplomasi.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Minggu menyatakan telah memerintahkan pasukan Israel untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi melawan Hezbollah.
Pada Senin, Netanyahu kembali menginstruksikan militer Israel menyerang sejumlah target di kawasan pinggiran selatan Beirut yang merupakan basis kuat Hezbollah. Kantor Netanyahu menuduh kelompok tersebut berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada akhir April.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, serta Netanyahu mengenai proses diplomasi antara Israel dan Lebanon.
Seorang pejabat AS menyebut Washington telah mengajukan rencana yang memungkinkan terjadinya "de-eskalasi secara bertahap" guna meredakan konflik yang terus memburuk di kawasan Timur Tengah












