Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, dikenal sebagai ulama berpengaruh yang sejak lama menentang kelompok reformis di Iran yang ingin memperbaiki hubungan dengan Barat.
Hubungannya yang erat dengan para ulama konservatif dan Islamic Revolutionary Guard Corps membuatnya memiliki pengaruh kuat dalam struktur politik dan keamanan negara.
Selama bertahun-tahun ia disebut berperan sebagai penjaga gerbang kekuasaan ayahnya dan oleh sebagian analis bahkan dianggap sebagai “pemimpin tertinggi bayangan”.
Mojtaba menempuh pendidikan agama di kota Qom, pusat studi teologi Syiah di Iran, dan memiliki gelar ulama Hojjatoleslam.
Pada 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba dengan alasan ia mewakili pemimpin tertinggi Iran dalam kapasitas resmi meski tidak pernah memegang jabatan pemerintahan formal.
Tonton: Rusia Diduga Bocorkan Intelijen ke Iran! Posisi Kapal Perang AS Terungkap?
Seorang sumber dari negara Teluk yang memahami dinamika pemerintahan kawasan mengatakan penunjukan Mojtaba merupakan pesan langsung bagi Washington.
“Ini memberi tahu Trump dan Amerika Serikat bahwa Iran tidak akan mundur. Mereka akan terus bertempur sampai akhir,” katanya.
Paul Salem bahkan membandingkan situasi Iran saat ini dengan Irak pada masa Saddam Hussein setelah 1991 atau Suriah di bawah Bashar al-Assad setelah 2012—negara yang mampu bertahan dari perang dan isolasi internasional, tetapi terus mengalami ketidakstabilan.
“Mereka menggandakan sikap keras. Di dalam negeri, situasinya bisa sangat buruk dan berpotensi sangat tidak stabil,” ujar Salem.













