kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   -20.000   -0,78%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Jerman dan Prancis mendalami rencana integrasi fiskal


Selasa, 29 November 2011 / 09:32 WIB
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati anggaran program PEN tahun 2020 tersisa Rp 115 triliun.


Reporter: Dyah Megasari, ,

BERLIN. Jerman dan Prancis terus bahu membahu membereskan masalah keuangan yang terjadi di Uni Eropa. Keduanya kembali menyeriusi wacana integrasi fiskal antar anggota euro.

"Kami yakin tindakan politik merupakan salah satu hal yang bisa membereskan krisis ekonomi," ujar Steffen Seibert juru bicara pemerintah Jerman. Menurutnya, kedua negara tersebut tidak dalam kondisi yang terburu-buru untuk memutuskan hal ini.

Sejatinya, keduanya menghendaki agar pembahasan tersebut melibatkan seluruh anggota Uni Eropa. Namun karena terkendala amendemen pakta Uni Eropa, klausul integrasi baru difokuskan pada komunitas euro.

Nantinya seluruh anggota euro-zone akan terikat dalam kesepakatan fiskal yang sama. "Tujuannya supaya negara pengguna euro bisa menciptakan stabilitas bersama," tegas Wolfgang Schaeuble, Menteri Keuangan Jerman. Selama ini, negaranya memang terkenal paling giat menyosialisasikan disiplin anggaran. Jerman juga terkenal keras dalam memberikan sanksi bagi negara yang melanggar.

Serikat fiskal ini diyakini ampuh menangkal krisis di Uni Eropa lebih dalam. Namun rencana itu diperkirakan justru lebih fokus pada obligasi dan peringkat AAA yang berarti tak termasuk di dalamnya Italia dan Spanyol.




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×