kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45950,15   -24,18   -2.48%
  • EMAS989.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

JPMorgan Proyeksi Harga Minyak Bisa US$ 125 per Barel, Ini Pendorongnya


Selasa, 15 Februari 2022 / 15:32 WIB
JPMorgan Proyeksi Harga Minyak Bisa US$ 125 per Barel, Ini Pendorongnya
ILUSTRASI. JPMorgan memproyeksikan, harga minyak dunia bisa mencapai US$ 125 per barel pada awal kuartal kedua tahun ini. REUTERS/Christian Hartmann.


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Kekurangan produksi OPEC+ dan kekhawatiran kapasitas cadangan kemungkinan akan membuat pasar minyak tetap ketat, dan harga bisa mencapai US$ 125 per barel pada awal kuartal kedua tahun ini, menurut JPMorgan Global Equity Research.

"Penurunan pasokan akan meningkat hingga 2022 karena OPEC+ tidak mungkin menyimpang dari peningkatan kuota yang ditargetkan,  mendorong premi risiko yang lebih tinggi lebih dari US$ 30 per barel terhadap harga minyak," kata JPMorgan dalam catatan 11 Februari, seperti dilansir Reuters.

Harga minyak jenis Brent pada Selasa (15/2) pukul 15.25 WIB ada US$ 95,10 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bertengger di US$ 93.99 per barel, di tengah meningkatnya ketegangan Ukraina-Rusia.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, telah menaikkan target produksi bulanan sebesar 400.000 barel per hari baru-baru ini, tetapi telah berulang kali gagal mencapai peningkatan itu.

Baca Juga: Reli Terhenti, Harga Minyak Mentah Koreksi Akibat Aksi Ambil Untung

Beberapa negara OPEC+ sedang berjuang untuk meningkatkan output setelah bertahun-tahun kekurangan investasi.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan Januari lalu menyatakan, kesenjangan antara target OPEC+ dan produksi aktual pada bulan lalu telah melebar menjadi 900.000 barel per hari.

"Kinerja yang kurang ini datang pada saat yang kritis, dan dalam pandangan kami, ketika produsen global lainnya goyah, kombinasi dari kurangnya investasi di negara-negara OPEC+ dan permintaan minyak yang meningkat pascapandemi akan sesuai dengan titik potensial krisis energi," ungkap JPMorgan.

"Selain itu, kami mencatat respons pasokan yang diredam oleh produsen non-OPEC terhadap harga yang lebih tinggi (dipimpin oleh fokus yang lebih besar pada transisi/pengembalian uang) bisa menambah premi US$ 10 per barel lebih lanjut," tambah JPMorgan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×