Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan menghilangkan jutaan pekerjaan dinilai belum menjadi ancaman utama bagi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Justru tantangan yang lebih besar datang dari menyusutnya jumlah angkatan kerja akibat perubahan demografi.
Melansir Fortune (18/7), riset Indeed Hiring Lab memperkirakan angkatan kerja AS akan berkurang hampir 6 juta orang pada 2032. Penyusutan ini dipicu oleh menurunnya angka kelahiran selama beberapa dekade serta semakin banyaknya generasi Baby Boomers yang memasuki masa pensiun, sementara jumlah pekerja muda tidak cukup untuk menggantikannya.
Kondisi tersebut menandai berakhirnya tren pertumbuhan tenaga kerja yang selama lebih dari dua abad menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.
Di sisi lain, adopsi AI memang semakin cepat di berbagai sektor. Namun, hingga kini belum terdapat bukti kuat bahwa teknologi tersebut memicu gelombang pemutusan hubungan kerja secara masif. Sebaliknya, perusahaan masih aktif merekrut tenaga kerja untuk mendukung pengembangan, implementasi, hingga infrastruktur AI.
Indeed menilai dampak terbesar justru berasal dari ketidaksesuaian antara sektor yang kekurangan tenaga kerja dengan sektor yang paling mudah terdampak otomatisasi.
Sektor-sektor seperti layanan kesehatan, konstruksi, dan berbagai pekerjaan teknis masih sangat bergantung pada tenaga manusia. AI dapat membantu menyederhanakan pekerjaan administratif, tetapi belum mampu menggantikan perawat yang merawat pasien secara langsung ataupun pekerja konstruksi yang membangun rumah.
Sebaliknya, perekrutan di sektor pekerjaan kantoran (white collar), seperti pengembangan perangkat lunak dan pemasaran, justru mulai melambat. Padahal, profesi-profesi tersebut merupakan kelompok pekerjaan yang paling berpotensi terdampak AI.
Tekanan kekurangan tenaga kerja juga diperkirakan semakin berat. Health Resources and Services Administration memperkirakan AS akan kekurangan lebih dari 140.000 dokter penuh waktu pada 2038. Pelaku usaha di sektor kesehatan, manufaktur, teknik, hingga sektor publik juga mengaku semakin sulit memperoleh pekerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Facebook dan Instagram Sempat Down, Ribuan Pengguna Laporkan Gangguan
Indeed menilai persoalan utama bukanlah hilangnya pekerjaan, melainkan sulitnya memindahkan tenaga kerja dari sektor yang kelebihan pasokan menuju sektor yang mengalami kekurangan pekerja.
Perpindahan tersebut tidak mudah dilakukan karena terbentur persyaratan sertifikasi, biaya pelatihan ulang, lokasi pekerjaan, hingga perbedaan tingkat upah. Akibatnya, banyak lowongan di sektor prioritas tetap sulit terisi meski tersedia banyak pencari kerja di sektor lain.
Menurut Indeed, selama bertahun-tahun sistem pendidikan dan pasar tenaga kerja juga lebih banyak mengarahkan talenta ke profesi kantoran, khususnya di bidang keuangan dan teknologi, karena dianggap menawarkan jenjang karier yang lebih menjanjikan. Sementara itu, pekerjaan di sektor kesehatan maupun tenaga terampil masih menghadapi persoalan citra meski menawarkan pendapatan dan stabilitas yang kompetitif.
Ketidaksesuaian tersebut mulai meningkatkan biaya perekrutan perusahaan, memperpanjang proses rekrutmen, sekaligus membuat pencari kerja membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai.
Karena itu, Indeed mendorong perusahaan lebih aktif membangun pasokan tenaga kerja melalui investasi pada program magang, pelatihan, dan pengembangan keterampilan, bukan sekadar bersaing mencari pekerja yang sudah tersedia di pasar.
Di sisi lain, pekerja juga dituntut lebih fleksibel mengembangkan keterampilan agar mampu berpindah ke sektor yang permintaannya terus meningkat. Indeed mencatat banyak keterampilan operasional yang sebenarnya dapat diterapkan lintas industri, sehingga membuka peluang transisi karier yang lebih luas.
AI juga dinilai dapat menjadi bagian dari solusi apabila dimanfaatkan untuk mencocokkan keterampilan pekerja dengan kebutuhan perusahaan. Teknologi tersebut dapat membantu pekerja menemukan peluang karier yang sesuai dengan kompetensinya sekaligus membantu perusahaan mengidentifikasi kandidat potensial yang selama ini kerap tersisih akibat proses seleksi yang terlalu bergantung pada ijazah atau pengalaman formal.
Dengan jumlah angkatan kerja yang diperkirakan terus menyusut, kemampuan mempertemukan tenaga kerja dengan kebutuhan industri secara lebih cepat akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat di masa depan.
Baca Juga: Konsorsium Pipa Minyak Kaspia Hentikan Pemuatan Minyak Pasca Serangan ke Kapal Tanker













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
