kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Kekhawatiran Gagal Bayar Menyeruak, Transaksi CDS Obligasi Perusahaan AI Melesat


Minggu, 15 Februari 2026 / 19:21 WIB
Kekhawatiran Gagal Bayar Menyeruak, Transaksi CDS Obligasi Perusahaan AI Melesat
ILUSTRASI. Kontrak CDS perusahaan teknologi besar jadi kontrak yang paling aktif diperdagangkan (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Bloomberg | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kekhawatiran atas gelombang obligasi besar-besaran yang digelontorkan perusahaan akal imitasi (AI) masih mewarnai pasar obligasi. Investor khawatir hal ini akan membuat perusahaan AI merugi.

Kekhawatiran tersebut membuat pasar derivati kredit, yakni credit default swap (CDS), makin marak. Lewat instumen ini, bank, investor, dan pihak lain dapat melindungi diri dari perusahaan penerbit obligasi yang menumpuk terlalu banyak utang dan menjadi tidak mampu membayar kewajiban.

Tahun lalu, CDS-CDS yang berbasis obligasi yang diterbitkan perusahaan teknologi besar masih belum banyak. Tapi tahun ini, menurut Depository Trust & Clearing Corp (DTCC), di Amerika Serikat (AS), kontrak CDS perusahaan teknologi besar jadi kontrak paling aktif diperdagangkan, hanya kalah aktif dari kontrak sektor keuangan.

Baca Juga: Kilas Balik 2025, Gagal Bayar di Industri Fintech Mulai dari Akseleran Hingga DSI

Dalam beberapa pekan terakhir, perdagangan pada kontrak CDS Meta Platforms Inc., induk perusahaan Facebook, dan kontrak CDS Alphabet Inc. menjadi jauh lebih aktif. Outstanding kontrak terkait obligasi Alphabet sekitar US$ 895 juta dan terkait obligasi Meta sekitar US$ 687 juta.

Investasi pengembangan AI diperkirakan akan menelan biaya lebih dari US$ 3 triliun. Sebagian besar investasi ini akan didanai dengan utang. Ini membuat perusahaan teknologi terkaya di dunia dengan cepat berubah menjadi perusahaan yang paling banyak berutang.

“Fenomena hyperscaler ini sangat besar dan masih banyak lagi yang akan datang sehingga benar-benar menimbulkan pertanyaan, apakah Anda benar-benar ingin terpapar di sini?” kata Gregory Peters, Kepala Investasi PGIM Fixed Income, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (15/2/2026).

Baca Juga: Persaingan AI Memanas, ByteDance Rilis Model AI yang Diklaim Kalahkan Google Gemini

Hyperscaler merujuk pada perusahaan teknologi yang salah satu divisi bisnisnya memiliki kemampuan mengelola dan memproses data dalam jumlah sangat besar. Perusahaan AI jelas masuk kategori ini.

DTCC mencatat, di akhir 2025 lalu, ada enam diler membuat kuotasi atas CDS Alphabet. Sebelumnya, di Juli, hanya ada satu diler yang membuat kuotasi.

Sementara jumlah diler yang membuat kuotasi CDS Amazon.com Inc. naik menjadi lima dari tiga. Beberapa penyedia bahkan menawarkan keranjang CDS hyperscaler, yang mencerminkan keranjang obligasi tunai yang sedang dikembangkan dengan cepat.

Baca Juga: Samsung Mulai Kirim Chip HBM4, Tancap Gas Kejar Ketertinggalan di Balapan AI

Seorang pedagang Wall Street mengatakan, meja perdagangannya secara teratur membuat kuotasi senilai US$ 20 juta hingga US$ 50 juta untuk CDS berbagai perusahaan besar, yang bahkan tidak diperdagangkan setahun yang lalu.

Morgan Stanley memperkirakan pinjaman oleh perusahaan teknologi besar yang dikenal sebagai hyperscaler akan mencapai US$ 400 miliar tahun ini, naik dari US$ 165 miliar di 2025. Alphabet mengatakan pengeluaran modalnya akan mencapai US$ 185 miliar tahun ini untuk membiayai pengembangan AI.

Saat ini, perusahaan hyperscaler masih belum mengalami kesulitan menerbitkan obligasi untuk mendanai rencana ekspansi. Tengok saja Alphabet, yang obligasi terbarunya oversubscribed berkali-kali lipat.

Baca Juga: Elon Musk Gagas Pembangunan Pabrik Satelit AI di Bulan, Siap Bersaing dengan Bezos

Alphabet juga sukses menjual obligasi tenor 100 tahun. Padahal, investor biasanya menilai bisnis perusahaan teknologi sebagai bisnis yang cepat berubah dan berisiko.

Bank-bank yang menjamin utang hyperscaler juga telah menjadi pembeli CDS yang signifikan akhir-akhir ini. “Periode distribusi yang diharapkan selama tiga bulan dapat meningkat menjadi sembilan hingga 12 bulan,” kata Matt McQueen, Head of Credit, Securitized Products & Muni Banking Bank of America Corp.

Analis menilai permintaan akan keranjang dana lindung nilai baru diperkirakan akan meningkat. “Perdagangan kredit swasta yang lebih aktif akan menciptakan permintaan tambahan untuk lindung nilai yang ditargetkan,” kata Paul Mutter, Head of US Fixed Income & Global Head of Fixed Income Sales Toronto-Dominion Bank.

Selanjutnya: Indonesian Petroleum Association (IPA) Perkuat Sinergi dengan Kampus

Menarik Dibaca: HP Android Bebas Iklan 2026: Rasakan Nyaman Tanpa Gangguan!




TERBARU

[X]
×