Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada awal perdagangan Senin (23/3/2026), setelah Donald Trump dan Iran saling melontarkan ancaman serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, memperdalam eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent naik US$1,01 atau 0,90% menjadi US$113,20 per barel pada pukul 22.04 GMT, setelah sebelumnya ditutup di level tertinggi sejak Juli 2022 pada akhir pekan lalu.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$98,85 per barel, naik 62 sen atau 0,63%, melanjutkan kenaikan 2,27% pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Iran Ancam Serang Infrastruktur Energi Negara Teluk, Ultimatum Trump Picu Eskalasi
Kenaikan harga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama setelah ancaman saling serang antara Washington dan Teheran menyasar infrastruktur vital.
Seperti diberitakan sebelumnya, Iran memperingatkan akan menargetkan fasilitas energi dan instalasi strategis di kawasan jika serangan terhadap infrastrukturnya benar-benar terjadi.
Di sisi lain, Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika akses pelayaran di Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya.
Ketegangan di jalur strategis tersebut menjadi perhatian utama pasar, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi wilayah itu.
Baca Juga: Bos Saudi Aramco Batal Hadiri CERAWeek, Fokus Tangani Konflik Iran
Analis pasar menilai, eskalasi konflik meningkatkan premi risiko geopolitik pada harga minyak.
“Pasar kini memasukkan risiko gangguan pasokan yang jauh lebih besar, terutama jika konflik meluas ke infrastruktur energi utama,” ujar seorang analis energi global.
Lonjakan harga juga didorong oleh gangguan pengiriman akibat meningkatnya risiko keamanan di Teluk, yang membuat banyak kapal tanker menahan pergerakan.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, harga minyak telah melonjak tajam dan memicu kekhawatiran inflasi global, terutama bagi negara-negara importir energi.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan dalam 48 jam ke depan, menyusul ultimatum yang disampaikan Trump, yang berpotensi menjadi titik krusial bagi arah harga energi dan stabilitas pasar keuangan global.













