Sumber: The Motley Fool,The Motley Fool | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menutup rapat The Fed bulan Januari dengan konferensi pers, seperti biasanya, untuk menjelaskan langkah terbaru bank sentral AS dan menjawab pertanyaan wartawan soal kondisi ekonomi.
Pasar selalu mencermati konferensi pers ini karena sering memberi sinyal soal arah kebijakan suku bunga dan neraca The Fed ke depan.
Melansir The Motley Fool, dalam rapat terbaru dan konferensi pers tersebut, Powell menyampaikan kabar positif tentang kondisi ekonomi. Namun, kabar baik ini justru berpotensi menjadi kabar buruk bagi Presiden Donald Trump, yang sejak awal masa jabatan keduanya kerap berselisih pandangan dengan The Fed.
Kabar baik soal ekonomi dan pasar tenaga kerja
Dalam konferensi pers, Powell menyampaikan bahwa kondisi ekonomi AS, inflasi, dan pasar tenaga kerja menunjukkan sinyal yang cukup solid.
Untuk inflasi, Powell mengatakan The Fed melihat adanya perlambatan kenaikan harga (disinflasi) di sektor jasa. Namun, inflasi di sektor barang masih tergolong tinggi, salah satunya akibat kebijakan tarif. Meski begitu, ekspektasi inflasi jangka panjang masih berada di sekitar target The Fed sebesar 2%.
Powell juga menyebut aktivitas ekonomi masih cukup kuat dan bahkan sering melampaui perkiraan. Konsumen dinilai tetap tangguh, sementara dunia usaha terus meningkatkan investasi. Meski demikian, sektor perumahan masih menjadi titik lemah.
Ia juga menilai penutupan sementara pemerintahan (government shutdown) kemungkinan sempat menekan aktivitas ekonomi, tetapi dampaknya diperkirakan akan berbalik membaik pada kuartal ini.
Baca Juga: Euforia Berakhir, Harga Perak Terjun Bebas
Dari sisi tenaga kerja, Powell mengatakan data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja mulai stabil setelah sebelumnya sempat melunak. Pertumbuhan lapangan kerja memang melambat, tetapi hal itu sebagian disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan jumlah tenaga kerja, akibat imigrasi yang lebih rendah dan partisipasi angkatan kerja yang menurun.
Sementara itu, jumlah lowongan kerja, PHK, perekrutan, dan pertumbuhan upah nominal relatif tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir.
Mengapa ini jadi kabar buruk bagi Trump?
Kabar baik soal ekonomi dan tenaga kerja justru bisa menjadi kabar buruk bagi Presiden Trump. Pasalnya, Trump secara terbuka menginginkan The Fed menurunkan suku bunga lebih lanjut.
Data terbaru ini tidak terlalu mendukung pemangkasan suku bunga tambahan, terutama dari sisi pasar tenaga kerja.
The Fed memiliki mandat ganda, yakni menjaga stabilitas harga dan mencapai tingkat pekerjaan maksimum. Namun, inflasi masih berada di level relatif tinggi. Pada Januari, inflasi tercatat sekitar 3%, masih di atas target The Fed.
Baca Juga: TikTok Terancam Denda Besar di Eropa Karena Langgar Aturan Konten Online
Jika The Fed terus menurunkan suku bunga, hal itu bisa semakin mendorong aktivitas ekonomi dan berisiko kembali memicu inflasi. Jika pasar tenaga kerja juga tidak menunjukkan pelemahan signifikan, maka The Fed tidak memiliki alasan kuat untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Tekanan biaya hidup dan kepentingan politik
Banyak masyarakat AS saat ini menghadapi krisis keterjangkauan biaya hidup. Inflasi melonjak sejak pandemi, disertai kenaikan biaya hidup secara luas. Biaya perumahan menyedot porsi pendapatan yang semakin besar, sementara kenaikan gaji belum cukup untuk menutup kebutuhan hidup, menabung untuk membeli rumah, dan mempersiapkan dana pensiun.
Isu ekonomi menjadi perhatian utama pemilih, apalagi pemilu paruh waktu (midterm elections) dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini. Trump dan Partai Republik tentu ingin mempertahankan mayoritas di Kongres untuk melanjutkan agenda politiknya. Karena itu, suku bunga dan daya beli masyarakat menjadi isu yang sangat sensitif.
Pasar masih perkirakan dua kali pemangkasan suku bunga
Saat ini, pasar masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali sepanjang tahun ini. Namun, jika data terus menunjukkan stabilisasi pasar tenaga kerja dan perlambatan inflasi, The Fed bisa saja menahan diri untuk tidak memangkas suku bunga lebih lanjut.
Tonton: Austrade: Kerjasama Indonesia Australia Makin Erat: Ini Prospek Sektor Bisnis
Jika itu terjadi, pasar saham berpotensi tertekan, yang bisa menjadi kabar buruk tambahan bagi Trump.
Meski begitu, kondisi bisa berubah cepat. Data inflasi dan tenaga kerja dirilis setiap bulan dan kerap sulit diprediksi. Masih ada kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih banyak dari perkiraan saat ini, tetapi skenario sebaliknya juga tetap terbuka, hal yang perlu dicermati oleh para investor.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)