Sumber: The Motley Fool,The Motley Fool | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Banyak masyarakat AS saat ini menghadapi krisis keterjangkauan biaya hidup. Inflasi melonjak sejak pandemi, disertai kenaikan biaya hidup secara luas. Biaya perumahan menyedot porsi pendapatan yang semakin besar, sementara kenaikan gaji belum cukup untuk menutup kebutuhan hidup, menabung untuk membeli rumah, dan mempersiapkan dana pensiun.
Isu ekonomi menjadi perhatian utama pemilih, apalagi pemilu paruh waktu (midterm elections) dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini. Trump dan Partai Republik tentu ingin mempertahankan mayoritas di Kongres untuk melanjutkan agenda politiknya. Karena itu, suku bunga dan daya beli masyarakat menjadi isu yang sangat sensitif.
Pasar masih perkirakan dua kali pemangkasan suku bunga
Saat ini, pasar masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali sepanjang tahun ini. Namun, jika data terus menunjukkan stabilisasi pasar tenaga kerja dan perlambatan inflasi, The Fed bisa saja menahan diri untuk tidak memangkas suku bunga lebih lanjut.
Tonton: Austrade: Kerjasama Indonesia Australia Makin Erat: Ini Prospek Sektor Bisnis
Jika itu terjadi, pasar saham berpotensi tertekan, yang bisa menjadi kabar buruk tambahan bagi Trump.
Meski begitu, kondisi bisa berubah cepat. Data inflasi dan tenaga kerja dirilis setiap bulan dan kerap sulit diprediksi. Masih ada kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih banyak dari perkiraan saat ini, tetapi skenario sebaliknya juga tetap terbuka, hal yang perlu dicermati oleh para investor.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)