kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Kian memanas, Iran tinggalkan kesepakatan pembatasan pengayaan uranium


Senin, 06 Januari 2020 / 16:20 WIB
ILUSTRASI. Demonstran menghadiri protes menentang pembunuhan Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Kepala Pasukan Quds, dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis yang tewas dalam serangan udara di Bandara Baghdad, di Teheran, Iran, 3 Januari, 2020


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - BERLIN. Situasi di Timur Tengah makin mendidih. Iran, Ahad (5/1), mengumumkan, mereka bakal meninggalkan kesepakatan pembatasan pengayaan uranium.

Dan, pengumuman itu bertepatan dengan meningkatnya permusuhan dengan Washington, setelah pembunuhan Qassem Soleimani, Kepala Pasukan Quds Iran, dalam serangan pesawat tanpa awak AS, Jumat (3/1) lalu, di Baghdad.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan, rencana Iran tersebut bisa menjadi langkah pertama menuju akhir dari Perjanjian Nuklir 2015 dengan enam kekuatan utama dunia termasuk Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Putri Jenderal Soleimani: Amerika dan Israel akan menghadapi hari gelap

"Kami pasti akan berbicara dengan Iran lagi. Apa yang telah mereka umumkan, bagaimanapun tidak konsisten dengan perjanjian," kata  Maas kepada radio Deutschlandfunk, Senin (6/1), seperti dikutip Reuters.

"(Situasi) belum menjadi lebih mudah, dan ini bisa menjadi langkah pertama dari akhir perjanjian ini, yang akan menjadi kerugian besar sehingga kami akan menimbang ini dengan sangat, sangat bertanggungjawab sekarang," ujar dia.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×