kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.901   42,00   0,25%
  • IDX 8.310   97,96   1,19%
  • KOMPAS100 1.169   11,37   0,98%
  • LQ45 839   8,86   1,07%
  • ISSI 297   2,12   0,72%
  • IDX30 438   6,14   1,42%
  • IDXHIDIV20 525   8,40   1,63%
  • IDX80 130   1,09   0,85%
  • IDXV30 143   1,04   0,73%
  • IDXQ30 141   2,01   1,45%

Kremlin Bantah Rusia dan China Lakukan Uji Coba Nuklir, Tuduhan AS Tak Berdasar


Rabu, 18 Februari 2026 / 16:57 WIB
Kremlin Bantah Rusia dan China Lakukan Uji Coba Nuklir, Tuduhan AS Tak Berdasar
ILUSTRASI. Kremlin tegaskan Rusia dan China tidak pernah melakukan uji coba nuklir rahasia seperti tuduhan AS. Pahami bantahan ini selengkapnya. (KONTAN/Barratut Taqiyyah/KONTAN)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Kremlin menegaskan bahwa Rusia dan China tidak pernah melakukan uji coba nuklir secara rahasia, menyusul tudingan Amerika Serikat (AS) terkait dugaan uji coba nuklir tersembunyi yang dilakukan Beijing pada 2020.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan baik Federasi Rusia maupun Republik Rakyat China tidak melakukan uji coba nuklir sebagaimana yang dituduhkan Washington.

“Kami telah mendengar banyak referensi terkait sejumlah uji coba. Baik Federasi Rusia maupun China disebut dalam konteks ini. Tidak satu pun dari Federasi Rusia maupun China telah melakukan uji coba nuklir,” ujar Peskov kepada wartawan.

Baca Juga: AS Tuduh China Lakukan Uji Ledakan Nuklir Bawah Tanah, Ini Respons Beijing

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah China telah secara tegas membantah tudingan tersebut. “Kami juga mengetahui bahwa tuduhan ini telah dibantah secara kategoris oleh perwakilan Republik Rakyat China, jadi itulah situasinya,” kata Peskov.

AS Tuduh China Lakukan Uji Coba Nuklir Rahasia

Pada awal bulan ini, Amerika Serikat menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia pada 2020. Tuduhan tersebut disampaikan di tengah dorongan Washington untuk membentuk perjanjian pengendalian senjata nuklir yang baru dan lebih luas, yang melibatkan China selain Rusia.

Presiden AS Donald Trump mendesak China agar bergabung dengan Amerika Serikat dan Rusia dalam negosiasi perjanjian baru sebagai pengganti New START, yakni perjanjian terakhir pengendalian senjata nuklir antara Washington dan Moskow.

Perjanjian New START resmi berakhir pada 5 Februari lalu, mengakhiri kerangka kerja utama yang selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan oleh kedua negara.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Tertekan Isu Nuklir Iran-AS

Kekhawatiran Perlombaan Senjata Nuklir

Berakhirnya New START memicu kekhawatiran di kalangan sejumlah analis dan pakar keamanan internasional bahwa dunia berpotensi memasuki fase perlombaan senjata nuklir yang semakin cepat.

Namun demikian, sebagian pakar pengendalian senjata menilai kekhawatiran tersebut berlebihan. Mereka berpendapat bahwa meskipun tidak ada perjanjian formal yang berlaku, berbagai mekanisme transparansi dan kepentingan strategis masing-masing negara masih dapat menahan eskalasi secara drastis.

Isu pengendalian senjata nuklir kembali menjadi sorotan global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Rusia, dan China. Perkembangan ini dinilai akan menjadi faktor kunci dalam stabilitas keamanan internasional dalam beberapa tahun ke depan.

Selanjutnya: Kurangi Ketergantungan AS, Pengusaha Furnitur Diversifikasi Pasar Ekspor

Menarik Dibaca: 6 Tanda pada Tubuh jika Kesehatan Usus Bermasalah, Apa Saja?




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×