Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus pada Minggu (13/4). Unggahan tersebut memicu kecaman luas, bahkan dari sebagian kalangan konservatif religius yang biasanya menjadi pendukungnya.
Unggahan di platform Truth Social itu kemudian dihapus pada Senin (14/4).
Berdasarkan laporan Reuters, kontroversi ini muncul di tengah memanasnya konflik Trump dengan Paus Leo, yang mengkritik perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sebagai tindakan tidak manusiawi.
Tak lama sebelum mengunggah gambar AI tersebut, Trump juga menyerang Paus Leo lewat unggahan panjang dan menyebut Paus “lemah dalam urusan kriminal dan buruk dalam kebijakan luar negeri.”
Paus Leo, yang merupakan Paus pertama kelahiran Amerika Serikat, merespons dengan menegaskan bahwa ia “tidak takut” terhadap pemerintahan Trump dan akan tetap bersuara.
Dalam pidato di Aljir pada Senin, Paus Leo mengecam kekuatan dunia “neo-kolonial” yang melanggar hukum internasional, meski tidak secara spesifik menyebut Amerika Serikat.
Trump: Itu bukan Yesus, saya digambarkan sebagai dokter
Dalam gambar yang menyerupai lukisan itu, Trump tampak mengenakan jubah putih dan menyentuh kepala seorang pria yang tampak terbaring, seolah sedang melakukan penyembuhan. Trump juga terlihat memegang bola bercahaya, dengan latar belakang Patung Liberty, kembang api, jet tempur, dan burung elang.
Trump membantah pada Senin bahwa gambar tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai figur mirip Yesus. Ia menyebut tuduhan itu sebagai berita bohong.
Baca Juga: Kolombia Habisi Kuda Nil dari Era Pablo Escobar, Ada Apa Sebenarnya?
"Itu seharusnya menggambarkan saya sebagai dokter yang membuat orang lebih baik, dan saya memang membuat orang lebih baik," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, tak lama setelah unggahan tersebut dihapus.
Unggahan itu dinilai berpotensi menciptakan keretakan antara Trump dengan kelompok kanan religius, yang dukungannya sangat penting bagi kemenangan Trump dalam pemilu 2024.
Dikecam pendukung sendiri: “Penistaan yang menjijikkan”
Brilyn Hollyhand, mantan wakil ketua Dewan Penasihat Pemuda Komite Nasional Partai Republik (RNC), menilai unggahan tersebut sebagai bentuk penistaan.
"Ini penistaan yang menjijikkan. Iman bukan alat," tulis Hollyhand di X.
Sementara Riley Gaines, aktivis konservatif dan mantan perenang kampus yang sering tampil bersama Trump dalam kampanye, juga mempertanyakan unggahan itu.
"Apakah dia benar-benar percaya ini?" tulisnya. Ia menambahkan bahwa sedikit kerendahan hati akan bermanfaat dan “Tuhan tidak bisa dipermainkan.”
Bisa jadi titik balik dukungan Katolik?
Pemilih Kristen, termasuk Katolik, merupakan basis penting dalam dukungan politik Trump. Meski Trump diketahui tidak rutin menghadiri gereja, ia memenangkan mayoritas besar suara pemilih Kristen pada Pemilu 2024.
Setelah Trump selamat dari percobaan pembunuhan pada Juli 2024, sebagian pendukung evangelis bahkan menyebut peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa Trump “diberkati Tuhan.”
David Gibson, Direktur Center on Religion and Culture di Fordham University, mengatakan sulit memahami motif Trump menyerang Paus Leo dan mengunggah gambar kontroversial itu. Namun, ia juga menilai masih belum jelas apakah pemilih Katolik akan benar-benar meninggalkan Trump.
"Apakah ini akan melewati garis merah bagi mereka? Apakah mereka akhirnya akan menghukum Trump dan Partai Republik di kotak suara?" kata Gibson.
Ia menyebut situasi ini sebagai “momen penentu”, yang dapat membuat pemilih Katolik di AS memilih antara Paus atau Presiden.
Tonton: Rp 300 Triliun! Permohonan Restitusi Pajak Jadi Sorotan
Uskup Robert Barron, yang tergabung dalam komisi kebebasan beragama bentukan Trump, menyatakan di X bahwa Trump seharusnya meminta maaf kepada Paus Leo atas pernyataan yang ia sebut “tidak pantas.” Namun, Barron juga memuji Trump karena upayanya mendekati pemilih Katolik.
Trump menegaskan dirinya tidak merasa perlu meminta maaf.
"Saya tidak punya apa pun untuk dimintai maaf kepada Paus," kata Trump.
Paus Leo makin vokal soal perang Iran
Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo menjadi salah satu pengkritik paling keras terhadap perang Iran. Ia bahkan melakukan seruan langsung yang jarang dilakukan, meminta Trump mencari “jalan keluar” untuk mengakhiri konflik.
Leo juga menegaskan bahwa Yesus tidak bisa digunakan untuk membenarkan perang dan bahwa Tuhan menolak doa dari pihak yang memulai konflik.
Komentar tersebut dipandang sebagai sindiran terhadap pejabat Trump seperti Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang sebelumnya mengutip kitab suci untuk membenarkan penggunaan “kekerasan besar” terhadap musuh.
Trump sebelumnya juga pernah berseteru dengan pendahulu Paus Leo, Paus Fransiskus, yang mengecam kebijakan deportasi Trump sebagai tindakan yang tidak mencerminkan nilai Kristen.
Namun, Gibson menilai serangan Trump terhadap Paus Leo jauh melampaui konflik yang pernah terjadi dengan Paus Fransiskus.
"Presiden Amerika dan umat Katolik Amerika pernah berbeda pendapat dengan Paus di masa lalu. Tapi ini sudah masuk kategori tidak hormat. Tidak hormat itu berbeda jauh dari sekadar perbedaan pendapat," kata Gibson.
Saat ini, setidaknya delapan anggota kabinet Trump beragama Katolik, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.













