kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.993   76,00   0,45%
  • IDX 9.134   58,47   0,64%
  • KOMPAS100 1.263   7,36   0,59%
  • LQ45 893   3,69   0,41%
  • ISSI 334   4,00   1,21%
  • IDX30 455   2,66   0,59%
  • IDXHIDIV20 538   4,37   0,82%
  • IDX80 141   0,76   0,54%
  • IDXV30 149   1,74   1,18%
  • IDXQ30 146   0,65   0,45%

Lebih dari 220 Perusahaan Leasing Mobil Singapura Tutup Sepanjang 2025, Ada Apa?


Senin, 19 Januari 2026 / 09:41 WIB
Lebih dari 220 Perusahaan Leasing Mobil Singapura Tutup Sepanjang 2025, Ada Apa?
ILUSTRASI. Ribuan pengemudi transportasi online di Singapura terancam kehilangan mata pencarian akibat krisis perusahaan leasing. (DOK/airbnb.co.uk)


Sumber: Channelnewsasia.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Ketika Chua, seorang pengemudi transportasi online berusia 34 tahun, mengetahui pada November lalu bahwa perusahaan tempat ia menyewa mobil, Autobahn Rent A Car, sedang mengalami masalah keuangan, seorang staf penjualan meyakinkannya bahwa operasional akan tetap berjalan normal.

Chua mulai menyewa mobil dari perusahaan tersebut sejak September dan sepenuhnya bergantung pada mobil itu sebagai satu-satunya sumber penghasilannya. Namun, janji tersebut ternyata tidak terbukti.

Mengutip Channel News Asia, Autobahn Rent A Car dan sejumlah perusahaan terkait dilaporkan memiliki utang lebih dari S$ 300 juta (sekitar US$ 233 juta) kepada para kreditur. Pada 26 Desember, permohonan perusahaan untuk mendapatkan perlindungan dari kreditur ditolak oleh Pengadilan Tinggi.

Tiga hari kemudian, pada 29 Desember, Chua diberi tahu bahwa perusahaan akan menghentikan operasionalnya.

Ia sebelumnya telah membayar uang deposit sebesar S$ 500 untuk mobil tersebut, dan diberi tahu bahwa ia masih boleh “terus menggunakan mobil untuk mengompensasi deposit itu”.

“Namun ketika saya cek pajak jalannya, ternyata sudah kedaluwarsa,” katanya.

Baca Juga: Ekonomi China Goyah: Produksi Industri Melesat, Penjualan Ritel Anjlok

Karena pajak jalan sudah mati, Chua tidak bisa lagi menggunakan mobil tersebut sejak 29 Desember, dan hingga kini juga belum berhasil mendapatkan kembali uang depositnya.

Ia pun terpaksa mencari pekerjaan lain. Jika sebelumnya ia bisa memperoleh sekitar S$ 200 per hari sebagai pengemudi transportasi online, kini penghasilannya turun menjadi sekitar S$ 110 per hari setelah bekerja sebagai jasa pindahan rumah.

Pada Rabu (7 Januari), mobil tersebut akhirnya ditarik oleh pihak kreditur Autobahn.

“Saya belum berhasil mendapatkan mobil pengganti. Saya masih terus mencari dan bertanya ke sana-sini,” ujarnya.

Penutupan sejumlah pemain besar di industri leasing mobil dalam beberapa bulan terakhir memang menjadi sorotan, dan berdampak langsung pada pengemudi seperti Chua.

Perusahaan car sharing Shariot, yang masih satu grup dengan Autobahn, menghentikan layanan sewanya pada 31 Desember “hingga waktu yang belum ditentukan”, dengan alasan restrukturisasi internal dan evaluasi layanan.

Sebelumnya, pada awal Desember, perusahaan leasing mobil SRS Auto juga diselidiki terkait dugaan aktivitas pencucian uang.

Menjawab pertanyaan CNA, Otoritas Akuntansi dan Regulasi Korporasi Singapura (ACRA) menyebutkan bahwa hingga 24 Desember 2025, terdapat 1.634 entitas yang bergerak di bidang penyewaan dan leasing mobil pribadi tanpa sopir.

Baca Juga: Filipina Temukan Cadangan Gas Raksasa, Pertama Kalinya dalam Sedekade!

Namun, sepanjang 1 Januari hingga 24 Desember 2025, sebanyak 227 perusahaan di sektor ini telah menghentikan operasinya. Artinya, sekitar 12% dari industri leasing mobil tutup sepanjang tahun 2025.

Sekitar 1.700 unit kendaraan milik Autobahn Rent A Car akan ditarik dan dikembalikan kepada masing-masing kreditur.

Pada 7 Januari, Kongres Serikat Pekerja Nasional (NTUC), Otoritas Transportasi Darat (LTA), serta tiga operator platform transportasi, yakni ComfortDelGro, Grab, dan Strides Premier, mengumumkan bahwa mereka tengah berupaya membantu para pengemudi terdampak dengan menyediakan kendaraan pengganti.

“Kami memahami situasi ini menimbulkan kesulitan besar bagi para pengemudi yang terdampak, dan kami sudah berinteraksi langsung dengan sebagian dari mereka. Para pengemudi bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah, dan kami menanggapi hal ini dengan serius,” ujar Asisten Sekretaris Jenderal NTUC, Yeo Wan Ling.

Penasihat Asosiasi Pengemudi Transportasi Online Nasional (NPHVA) dan Asosiasi Taksi Nasional (NTA) menambahkan bahwa kedua organisasi tersebut akan terus bekerja sama dengan LTA dan operator platform untuk melindungi serta mendukung para pengemudi.

Tonton: DEN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tak Gantikan PLTU dalam Waktu Dekat

Namun, mengapa industri leasing mobil justru tertekan, padahal semakin banyak pengemudi di Singapura memilih sewa jangka panjang sebagai alternatif kepemilikan mobil?

Menurut perusahaan leasing mapan dan pengamat industri yang diwawancarai CNA, masalah saat ini berakar pada investasi yang tidak berkelanjutan, perang harga agresif yang dipicu pemain baru, serta model bisnis yang terlalu bertumpu pada utang.

Kemudahan akses modal untuk membiayai armada kendaraan juga disebut memperburuk fondasi bisnis sejumlah perusahaan di industri yang sangat kompetitif ini.

Selanjutnya: Dua Kamera 200MP? Vivo X300 Ultra Siap Guncang Industri Smartphone

Menarik Dibaca: Dua Kamera 200MP? Vivo X300 Ultra Siap Guncang Industri Smartphone




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×