CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Mahathir tersingkir, bagaimana nasib kaum non Muslim-Melayu di Malaysia?


Minggu, 01 Maret 2020 / 18:30 WIB
ILUSTRASI. Muhyiddin Yassin dan Mahathir Mohamad. Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dinilai membuka peluang kembalinya dominasi ras Melayu di Malaysia. REUTERS/Olivia Harris


Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi

Menurut aktivis hak sosial terkemuka Ivy Josiah, kaum Muslim Melayu banyak yang merasa khawatir atas semangat inklusivitas yang didorong Mahathir cs. “Kami sangat bangga bahwa orang non-Melayu menjadi menteri,” katanya. 

"Pemerintah tidak menyadari hubungan rapuh antara ras, rasa tidak aman Muslim Melayu dan bagaimana oposisi dapat menggunakan agama dan ras untuk memecah belah," katanya.

Baca Juga: Muhyiddin Yassin resmi dilantik sebagai perdana menteri Malaysia

Selama kampanye pemilihan 2018, Mahathir mengatakan bahwa pemerintahannya akan lebih transparan dalam pemberian kontrak pemerintah nyang seringkali jatuh ke tangan orang Melayu.

"Saya pikir Muhyiddin akan memimpin pemerintah Melayu yang lebih pro-etnis yang lebih dicirikan oleh divisi sosial, nasionalisme ekonomi, dan mungkin lebih sedikit pengekangan fiskal," kata Peter Mumford dari konsultan Eurasia.

Asal tahu, menurut konstitusi Malaysia semua orang Melayu adalah Muslim. Mereka membentuk lebih dari 60% populasi di negara ini. Sementara mayoritas warga non-Melayu di Malaysia bukan Muslim.

Baca Juga: Raja Malaysia tunjuk Muhyiddin Yassin sebagai perdana menteri yang baru




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×