kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.515
  • EMAS663.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Makin mesra, Rusia ingin kurangi pemakaian dolar AS dalam perdagangan dengan China

Minggu, 21 April 2019 / 14:20 WIB

Makin mesra, Rusia ingin kurangi pemakaian dolar AS dalam perdagangan dengan China

KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Rusia dan China ingin meningkatkan penggunaan rubel dan yuan dalam hubungan perdagangan bilateral untuk mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS.

Dilansir dari South China Morning Post, nilai perdagangan antara kedua negara pada 2018 naik 25% menjadi US $ 108 miliar, tetapi hanya sekitar 10% hingga 12% saja yang dilakukan dalam mata uang mereka sendiri. Di mana penggunaan yuan lebih tinggi ketimbang rubel.


Duta besar Rusia untuk China Andrey Denisov menyebut baik Moskow dan Beijing ingin meningkatkan persentase tersebut secara signifikan.

“Baik China dan Rusia tidak puas dengan kenyataan bahwa hampir semua pembayaran internasional didasarkan pada dolar Amerika. Kami membutuhkan lebih banyak swasembada. Kami membutuhkan lebih banyak otonomi, ”katanya.

“Ketika saya mengatakan 'kami', maksud saya bukan hanya Rusia dan China, tetapi berbagai negara. Kami tidak ingin menderita karena penggunaan hanya satu mata uang. "

China adalah mitra dagang terbesar Rusia, sementara Rusia adalah mitra terbesar ke-10 bagi Tiongkok. Ia pun menyebut realisasi perdagangan antara kedua negara di tahun lalu merupakan hasil yang memuaskan.

“Dan tahun ini kami akan terus tumbuh. Mungkin tidak setinggi sebelumnya, tetapi pada kuartal pertama tahun ini masih tumbuh," ungkap dia.

Moskow juga berharap bahwa dengan menggunakan mata uang lain, negara tersebut dapat melewati sanksi yang dijatuhkan oleh AS dan negara-negara Barat lainnya sebagai hukuman atas pencaplokan atas Krimea pada tahun 2014.

Denosov menambahkan, baik China dan Rusia sama-sama menjadi korban sanksi AS. Hanya saja, Rusia menghadapi sanksi secara langsung, sementara China secara tidak langsung. "Saya yakin sanksi tersebut bukan instrumen yang adil," katanya. 

"Dalam kasus China dan AS, presiden AS mengatakan dia benar-benar ingin mengejar kemajuan teknologi melalui kompetisi dan tidak dengan menghalangi teknologi bangsa lain. Tapi bukan itu yang kita lihat dalam kenyataan, misalnya dengan teknologi 5G," jelas dia.


Sumber : South China Morning Post
Editor: Tendi

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0021 || diagnostic_api_kanan = 0.0945 || diagnostic_web = 0.4360

Close [X]
×