kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.840.000   -44.000   -1,53%
  • USD/IDR 17.193   -13,00   -0,08%
  • IDX 7.687   53,25   0,70%
  • KOMPAS100 1.064   9,30   0,88%
  • LQ45 762   3,49   0,46%
  • ISSI 279   1,87   0,68%
  • IDX30 405   1,62   0,40%
  • IDXHIDIV20 491   0,79   0,16%
  • IDX80 119   0,87   0,74%
  • IDXV30 139   -0,44   -0,31%
  • IDXQ30 130   0,49   0,38%

Maskapai Asia Panen Permintaan Rute Eropa, Dampak Gangguan Hub Timur Tengah


Senin, 20 April 2026 / 08:11 WIB
Maskapai Asia Panen Permintaan Rute Eropa, Dampak Gangguan Hub Timur Tengah
ILUSTRASI. Pesawat Cathay Pacific (KONTAN/S.S. Kurniawan)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Sejumlah maskapai Asia mencatat lonjakan permintaan pada rute Eropa seiring terganggunya hub penerbangan di Timur Tengah akibat konflik Iran.

 Pergeseran arus penumpang ini dinilai berpotensi bertahan bahkan setelah konflik mereda.

Maskapai seperti Cathay Pacific Airways, Singapore Airlines, Korean Air, dan Qantas Airways melaporkan kinerja kuat pada rute Eropa sepanjang Maret, meski di saat bersamaan menghadapi lonjakan harga bahan bakar jet hingga dua kali lipat.

Baca Juga: Gagal 9 Tahun Lalu, Sistem CHESS Baru ASX Akankah Berhasil Kini?

Melansir laporan Reuters Senin (20/4/2026), Chief Customer and Commercial Officer Cathay Lavinia Lau menyebut, pihaknya menambah frekuensi dan kapasitas penerbangan ke Eropa pada Maret dan April untuk mengakomodasi lonjakan permintaan.

Permintaan kuat diperkirakan berlanjut sepanjang April, didorong oleh perjalanan Paskah serta meningkatnya pemesanan jarak jauh dengan transit di Hong Kong.

Sementara itu, Singapore Airlines mencatat tingkat keterisian kursi (load factor) rute Eropa melonjak menjadi 93,5% pada Maret, dari 79,7% pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini antara lain dipicu limpahan penumpang yang sebelumnya transit di hub Timur Tengah.

Sebelum konflik, maskapai Teluk seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways menguasai sekitar sepertiga trafik penumpang antara Eropa dan Asia, serta lebih dari setengah perjalanan dari Eropa ke Australia, Selandia Baru, dan Pasifik.

Meski kini mulai memulihkan kapasitas sekitar 60% dari level sebelum konflik maskapai-maskapai tersebut menghadapi tantangan baru.

Baca Juga: CapitaLand Raup Untung Rp 2,6 Triliun dari Penjualan Asia Square 2

Salah satunya adalah imbauan pemerintah Australia agar warganya tidak bepergian atau transit di kawasan Teluk, yang berdampak pada perlindungan asuransi perjalanan.

Akibatnya, tarif penerbangan yang menghindari rute Timur Tengah menjadi lebih mahal. Data dari Google Travel menunjukkan tiket pulang-pergi Sydney–London via Abu Dhabi dengan Etihad masih paling murah, namun opsi yang menghindari Timur Tengah bisa jauh lebih mahal.

Analis Bank of America menilai tren harga tinggi dan pergeseran pangsa pasar di rute Asia–Eropa dapat bertahan 6–12 bulan, didorong oleh jeda pemesanan (booking lag) dan kehati-hatian pelancong.

Di sisi lain, maskapai Asia memanfaatkan momentum ini. Korean Air mencatat laba operasional kuartal I naik 47,3% menjadi 517 miliar won, dengan pendapatan penumpang Eropa tumbuh 18% secara tahunan.

Qantas juga mengalihkan kapasitas dari rute domestik dan Amerika Serikat untuk memperkuat penerbangan ke Paris dan Roma.

Baca Juga: Lebih dari 20 Kapal Melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, Negara Mana Saja?

Sementara itu, otoritas navigasi udara Airservices Australia melaporkan trafik Australia–Timur Tengah anjlok 77% secara tahunan pada Maret akibat pengalihan rute.

“Gerbang Asia seperti Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, Tokyo, dan Seoul kini menangkap sebagian besar permintaan yang berpindah dan berpotensi menjadi hub alternatif,” tulis Airservices.

Perubahan pola ini menandai pergeseran penting dalam peta penerbangan global, dengan Asia berpotensi mengambil peran lebih besar sebagai titik transit utama antara Eropa dan kawasan Pasifik.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×