kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Melambung di tengah epidemik HIV/AIDS (2)


Jumat, 27 September 2019 / 17:55 WIB

Melambung di tengah epidemik HIV/AIDS (2)

KONTAN.CO.ID - Lim merupakan pria penuh perhitungan. Dia berani menginvestasikan seluruh tabungannya untuk merintis bisnis sarung tangan karet pada tahun 1991. Langkah itu setelah melakukan melakukan penelitian cukup lama dan mempelajari pasar. Dia tidak asal mengambil keputusan. Dengan persiapan matang disertai dengan kerja keras dan pantang menyerah, akhirnya Lim berhasil membawa perusahaan manufaktur kecil jadi perusahaan multinasional.

Lim Wee Chai sukses membangun perusahaan pembuat sarung tangan karet di bawah bendera Top Glove dari nol hingga menjadi perusahaan multinasional berkat prinsip kerja keras dan pantang menyerah.

Top Glove saat ini tercatat sebagai produsen sarung tangan terbesar di dunia dan menguasai 25% pangsa pasar global. Perusahaan ini sudah memiliki 40 pabrik yang tersebar di Malaysia, Thailand, dan China dengan kapasitas produksi 60,5 miliar lembar per tahun, serta memiliki kantor penjualan di AS dan Jerman.

Tumbuh di kota kecil Titi di Negeri Sembilan Malaysia, Lim kecil sebetulnya sudah tertarik terhadap karet. Kebetulan orangtuanya memiliki perkebunan karet dan terlibat bisnis perdagangan karet.

Anak kedua dari enam bersaudara ini sering membantu orangtuanya dengan bisnis perdagangan karet seusai pulang sekolah atau di kala libur. Lim termasuk orang yang pintar dan lihai menyeimbangkan antara sekolah dengan bekerja.

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, Lim melanjutkan sekolah atas di TAR College, Kuala Lumpur. Di sanalah dia bertemu istrinya, Puan Sri Tong Siew Bee. Setelah itu, dia melanjutkan perkuliahan di Teknik Fisika Universitas Malaya dan lulus pada tahun 1982.

Pasca-lulus sarjana, Lim lantas bekerja sebagai eksekutif penjualan selama dua tahun dan tiga tahun sebagai manajer penjualan di anak usaha Oyl Industries Group. Di situ, pria kelahiran 7 Januari 1958 ini ditempa lebih tangguh karena harus bekerja mengejar target.

Pada tahun 1984, Lim bersama istrinya kemudian mengejar gelar master di Universitas Negeri Sul Ross di Amerika Serikat. Lulus, sang istri ingin memiliki bisnis sendiri bersama suaminya. Lalu, muncul ide untuk memproduksi sarung tangan.

Dengan tekad bulat, Lim dan sang istri memutuskan merintis usahanya pada tahun 1991 dengan menginvestasikan seluruh tabungan yang sebesar RM 180.000. Dengan mempertaruhkan semua uang miliknya, tidak ada kata gagal dalam benak mereka.

Bukan tanpa alasan Lim berani mengambil risiko dengan mempertaruhkan seluruh tabungannya. Sebelum memutuskan untuk merintis bisnis itu, dia dan sang istri sudah terlebih dahulu menghabiskan banyak waktu melakukan penelitian mendalam.

Selain karena familiar dengan industri karet, Lim memutuskan merintis bisnis pembuatan sarung tangan karet karena dia melihat peluang bisnisnya memang besar kala itu. Kebutuhan akan sarung tangan untuk perawatan kesehatan meningkat di seluruh dunia. Selain itu, bisnis itu menurutnya relatif aman dari pengaruh ketidakpastian ekonomi dan politik.

Top Glove dimulai dengan satu pabrik, satu jalur produksi, dan 100 staf. Pabrik pertamanya dibeli dari salah satu dari banyak produsen sarung tangan yang gulung tikar saat itu. Di awal merintis, Lim harus berhadapan dengan banyak sekali kompetitor. Kala itu, ada sebanyak 250 produsen sarung tangan yang beroperasi di Malaysia yang sama-sama berebut pasar, termasuk untuk tujuan ekspor. Namun, Ia tak lantas menyerah.

Dewi fortuna kemudian menghampiri Lim. Permintaan sarung tangan meningkat drastis karena terjadi epidemik HIV/AIDS di dunia. Top Glove mendapat banyak order dari luar negeri, terutama AS yang menjadi importir terbesar sarung tangan karet asal Malaysia. Di sisi lain, sebagian kompetitornya mulai tersingkir karena tidak mampu memenuhi standar kualitas importir.

Top Glove terus berkembang dan membangun pabrik hingga ke luar Malaysia.

(Bersambung)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×