CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,80   -0,91   -0.09%
  • EMAS995.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Melanggar aturan perdagangan gula, India mendapat teguran dari WTO


Rabu, 15 Desember 2021 / 13:35 WIB
Melanggar aturan perdagangan gula, India mendapat teguran dari WTO
ILUSTRASI. Melanggar aturan perdagangan gula, India mendapat teguran dari WTO


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Sebuah panel di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sepakat untuk mendukung Brasil, Australia dan Guatemala terkait perselisihan perdagangan gula dengan India. India dianggap telah melanggar aturan global tentang subsidi gula.

"Kami merekomendasikan agar India membawa langkah-langkah tidak konsisten WTO sesuai dengan kewajibannya berdasarkan Perjanjian Pertanian dan Perjanjian SCM (Subsidi dan Tindakan Penyeimbang)," kata panel pada hari Selasa (14/12), seperti dikutip Reuters.

Dalam kasus yang diajukan ke WTO pada tahun 2019, produsen gula pesaing menuduh India telah melanggar aturan WTO dengan memberikan dukungan domestik yang berlebihan dan subsidi ekspor untuk gula dan tebu.

India, sebagai produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Brasil, pada hari Selasa mengatakan bahwa pihaknya akan mengajukan banding atas temuan panel yang disusun dalam laporan sebanyak 115 halaman tersebut.

Baca Juga: Harga minyak kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (15/12) pagi

Sayangnya, banding yang diajukan bisa batal secara hukum, karena majelis tinggi WTO yang bertanggung jawab, Appellate Body, tidak memiliki cukup hakim untuk bergerak.

Keputusan dari WTO bisa memakan waktu lama sampai bisa berdampak pada perdagangan global. Nantinya, pihak yang menang dapat diberikan tindakan pembalasan seperti menerapkan tarif yang lebih berat pada impor dari negara yang dinyatakan bersalah.

Memberi dukungan kepada produsen di luar batas

Laporan WTO mengungkap bahwa India telah memberikan dukungan domestik kepada produsen tebunya melebihi tingkat maksimum, yakni 10%, berdasarkan kesepakatan pertanian global. Praktik itu berjalan selama lima musim gula, antara tahun 2014-2015 dan 2018-2019.

India juga disebut tidak memberi tahu komite WTO terkait subsidi ekspor gulanya. Atas kejadian ini, India dianggap melanggar perjanjian lain terkait subsidi ekspor.

Baca Juga: Arab Saudi proyeksi akan mendapat surplus anggaran pada 2022

Melalui sebuah pernyataan resmi, Kementerian Perdagangan dan Industri India mengatakan bahwa laporan panel itu tidak dapat diterima dan tidak akan berdampak pada kebijakan gula yang sedang berlangsung. Kementerian bahkan menilai temuan WTO sebagai sesuatu yang salah dan tidak masuk akal.

Dilansir dari Reuters, Menteri Perdagangan Australia, Dan Tehan, menyambut baik keputusan WTO dan menyatakan dukungannya untuk mewujudkan sistem perdagangan berbasis aturan.

"Penggunaan WTO oleh Australia dalam hal ini konsisten dengan penggunaan WTO sebelumnya dan sejalan dengan dukungan kami untuk sistem perdagangan berbasis aturan," ungkap Tehan.

Dari Brasil, kelompok industri gula Unica mengatakan, laporan WTO tersebut menunjukkan pengakuan atas terjadinya distorsi perdagangan yang disebabkan oleh kebijakan gula India.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×