kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mendag AS: Pertemuan pada G20 tidak akan menghasilkan perjanjian dagang pasti


Rabu, 12 Juni 2019 / 07:17 WIB

Mendag AS: Pertemuan pada G20 tidak akan menghasilkan perjanjian dagang pasti

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertahankan strategi penggunaan tarif dalam perang dagang dengan China, Selasa (11/6). Sementara China akan meluncurkan tanggapan yang keras jika AS meningkatkan ketegangan perang dagang.

"Tarif adalah alat negosiasi yang hebat," ungkap Trump dalam cuitan, kemarin. Pernyataan ini menyusul pernyataan Trump hari sebelumnya yang menyebut bahwa dia siap menerapkan tarif lebih tinggi kepada China.


Awal pekan ini, Trump mengatakan bahwa dia akan menaikkan tarif impor China lebih lanjut jika tidak ada kemajuan negosiasi dagang dengan Presiden China Xi Jinping pada konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 akhir bulan ini. Trump berulang kali menyatakan bahwa dia akan bertemu Xi di Osaka, Jepang pada pertemuan G20. 

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross kemarin mengecilkan kemungkinan penyelesaian perselisihan pada saat pertemuan G20. Dia mengatakan bahwa KTT ini bukan tempat yang tepat untuk mencapai kesepakatan pasti.

"Pada G20, ini hanya akan menjadi semacam perjanjian untuk mengambil langkah lebih lanjut ke depan, tapi jelas bukan perjanjian pasti," kata Ross, kemarin.

Sekadar mengingatkan, pada KTT G20 tahun lalu di Argentina, AS dan China bertemu. Pertemuan ini hanya menyepakati tenggat waktu 90 hari gencatan senjata untuk kesepakatan lanjutan yang dilakukan secara terpisah oleh kedua negara.

Jurubicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan informasi akan dirilis jika sudah ada. "China tidak ingin berperang, tapi kami tidak takut menghadapi perang dagang," kata dia.

Shuang menambahkan bahwa China membuka pintu negosiasi berdasarkan kesetaraan. "Jika AS hanya ingin meningkatkan friksi perdagangan, kami akan menanggapi dengan tegas dan berjuang sampai akhir," kata dia seperti dikutip Reuters.

AS menekan China untuk menghilangkan kewajiban transfer teknologi dan pencurian rahasia dagang perusahaan-perusahaan AS yang berada di China. AS juga menuntut pengurangan subsidi bagi perusahaan-perusahaan BUMN China. AS pun meminta akses pasar yang lebih luas bagi perusahaan-perusahaan AS di pasar China.

Dengan sejumlah ancaman tersebut, Trump mengultimatum akan menaikkan tarif atas US$ 300 miliar impor China yang saat ini belum terkena kenaikan, termasuk barang-barang konsumen yang dijual di AS.

Pada 10 Mei lalu, Trump menaikkan tarif atas US$ 200 miliar impor China menjadi 25%. China membalas dengan kenaikan tarif pada US$ 60 miliar impor dari AS.

 


Sumber : Reuters
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×