Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Selain performa luar biasa Erling Haaland, kehadiran timnas Norwegia di Piala Dunia 2026 juga menjadi sorotan berkat aksi Viking Row para suporternya.
Aksi ini dilakukan secara kompak oleh ribuan pendukung Norwegia, mulai dari dalam stadion hingga di berbagai fasilitas umum yang tersebar di kota-kota tuan rumah.
Tentu ada sejarah menarik di balik tren Viking Row yang kini viral di dunia maya.
Baca Juga: 10 Pemain Paling Diburu di Bursa Transfer Musim Panas 2026
Apa itu Viking Row?
Viking Row adalah koreografi suporter yang meniru gerakan mendayung kapal Viking secara serempak.
Mengutip GiveMeSport, tradisi ini dimulai ketika para pendukung duduk bersama, lalu secara perlahan melantunkan kata "ro", yang dalam bahasa Norwegia berarti "mendayung".
Seluruh peserta menggerakkan kedua tangan maju dan mundur layaknya sedang mengayuh dayung di atas kapal.
Fenomena ini tidak hanya dilakukan di tribun stadion. Selama Piala Dunia 2026, Viking Row juga terlihat dilakukan di berbagai ruang publik, mulai dari eskalator, jalanan kota hingga stasiun kereta.
Momen paling ikonik terjadi setelah Norwegia mengalahkan Senegal dan memastikan tiket ke babak gugur Piala Dunia 2026. Seusai pertandingan, para pemain ikut bergabung melakukan Viking Row bersama ribuan pendukung.
Penyerang bintang Erling Haaland ikut merayakan kemenangan tersebut, sementara kapten tim Martin Odegaard memimpin tabuhan drum yang mengiringi chant para suporter hingga suasana berubah menjadi pesta besar.
Asal-usul Viking Row
Sesuai namanya, tradisi Viking Row terinspirasi dari sejarah pelayaran bangsa Viking yang menjadi bagian penting identitas Norwegia.
Gerakan mendayung dalam atraksi ini menggambarkan kapal-kapal panjang (longship) yang dahulu digunakan para prajurit dan penjelajah Viking untuk berlayar melintasi lautan Eropa.
Karena itulah, Viking Row bukan sekadar selebrasi sepak bola, melainkan juga menjadi simbol kebanggaan masyarakat Norwegia terhadap warisan sejarah mereka.
Baca Juga: Kontroversi Pride Match Piala Dunia 2026, FIFA Tolak Permintaan Iran dan Mesir
Mengiringi Kesuksesan Timnas Norwegia
Norwegia menjadi salah satu kejutan di Piala Dunia 2026. Setelah absen selama 28 tahun, tim berjuluk Løvene itu sukses menembus babak gugur.
Presiden NFF, Lise Klaveness, mengatakan Norwegia sejak lama mengembangkan sepak bola melalui klub-klub lokal dengan mengandalkan pelatih sukarelawan.
"Kami tidak memiliki pelatih profesional di sepak bola usia muda. Erling Haaland hingga remaja dilatih oleh para sukarelawan yang bahkan tidak dibayar. Hal yang sama juga dialami Martin Odegaard. Karena itu kami merasa harus memberikan sesuatu kembali kepada mereka," ujar Klaveness kepada Reuters.
Dalam pembinaan usia dini, anak-anak lebih diarahkan menikmati permainan dan belajar melalui pertandingan daripada mengejar kemenangan semata.
Sejak 2016, Norwegia juga telah membangun lebih dari 500 lapangan sepak bola sintetis guna memperluas akses latihan di berbagai wilayah.
"Kami ingin tim nasional lolos ke turnamen besar, tetapi model kami dibangun sepenuhnya di atas para sukarelawan. Kami memiliki sekitar 1.700 klub dan sebagai negara kecil, kami tidak mungkin menggunakan model lain," ujar Klaveness.
Baca Juga: Fakta Stadion Baru Manchester United, Biaya Rp47 Triliun dan Muat 100.000 Orang














