kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.768   59,00   0,33%
  • IDX 6.490   -28,55   -0,44%
  • KOMPAS100 846   -2,62   -0,31%
  • LQ45 640   -1,89   -0,30%
  • ISSI 228   -0,96   -0,42%
  • IDX30 358   -0,95   -0,27%
  • IDXHIDIV20 438   0,05   0,01%
  • IDX80 96   -0,25   -0,26%
  • IDXV30 123   0,79   0,65%
  • IDXQ30 114   -0,25   -0,22%

Menkeu AS Bessent Dorong Negara G20 Perketat Perdagangan dengan China


Senin, 31 Agustus 2026 / 09:43 WIB
Menkeu AS Bessent Dorong Negara G20 Perketat Perdagangan dengan China
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mendorong negara-negara anggota G20 untuk mempertimbangkan kembali kebijakan perdagangan dengan China guna mengurangi ketidakseimbangan perdagangan global.

Bessent mengatakan, negara-negara G20 perlu memberikan tekanan kepada Beijing agar mengubah struktur ekonominya yang terlalu bergantung pada ekspor dan meningkatkan konsumsi domestik.

Baca Juga: Para Manajer Investasi Global Sangsi The Fed Akan Naikkan Bunga di September Ini

Pernyataan tersebut disampaikan Bessent dalam wawancara menjelang pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20.

Menurut Bessent, lonjakan ekspor China ke berbagai negara saat ini tidak berkelanjutan. Ia menilai perekonomian China yang sedang lemah mendorong Beijing mengandalkan ekspor untuk menopang pertumbuhan.

“Dunia tidak bisa memiliki China dengan surplus perdagangan sebesar US$ 1,2 triliun,” ujar Bessent, dikutip Reuters, Minggu (30/8/2026).

“Ekonomi China cukup lemah dan mereka berusaha mengekspor untuk keluar dari kondisi tersebut. Mereka perlu menyeimbangkan kembali perekonomiannya,” lanjutnya.

Bessent mengatakan negara-negara lain perlu meninjau kembali ketentuan perdagangan mereka dengan China.

“Dunia secara keseluruhan perlu meninjau kembali ketentuan perdagangan dengan China,” katanya.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.750, Bagaimana Nasib Mata Uang Asia Lainnya?

AS Dorong Respons Terkoordinasi

Dorongan Bessent tersebut muncul ketika kebijakan tarif AS terhadap China menghadapi sejumlah tantangan hukum.

Kebijakan tarif sebelumnya telah mengurangi impor China ke AS, tetapi pada saat yang sama mendorong peningkatan ekspor China ke wilayah lain, terutama Eropa dan Amerika Latin.

AS sendiri telah membatasi masuknya berbagai produk China melalui tarif tinggi maupun larangan terhadap sejumlah produk, termasuk kendaraan.

Bessent mengatakan dirinya telah memperingatkan negara-negara industri lainnya mengenai potensi tekanan akibat lonjakan impor dari China.

Kini, menurut dia, negara-negara tersebut menghadapi pilihan yang semakin sulit untuk merespons kondisi tersebut.

Bessent menilai negara-negara lain perlu menciptakan insentif bagi China untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor sekaligus memperkuat permintaan domestiknya yang selama ini relatif lemah.

AS juga mendorong G20 mengeluarkan pernyataan bersama mengenai upaya mengurangi ketidakseimbangan perdagangan dan transaksi berjalan global.

Baca Juga: AS Bakal Kenakan Lebih Banyak Sanksi Baru ke Iran, Timur Tengah Memanas

Defisit Perdagangan AS-China Menyusut

Kebijakan tarif yang diberlakukan sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat pada 2025 telah membantu mengurangi defisit perdagangan AS dengan China.

Berdasarkan data Biro Sensus AS, defisit perdagangan AS dengan China pada enam bulan pertama 2026 turun sekitar sepertiga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$ 73,9 miliar.

Namun, kebijakan tersebut juga memicu pergeseran arus perdagangan. Sebagian barang China yang sebelumnya masuk ke AS kini mengalir ke pasar negara lain.

Bessent juga menolak gagasan bahwa penguatan yuan semata dapat menjadi solusi untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memperkirakan yuan berada dalam kondisi undervalued hingga sekitar 21%.

Menurut Bessent, gagasan untuk membuat kesepakatan baru seperti Plaza Accord 1985, yang bertujuan mendorong penguatan mata uang terhadap dolar AS, bukan solusi utama.

Ia menilai, persoalan yang lebih mendasar adalah subsidi industri China yang besar serta lemahnya konsumsi domestik.

Baca Juga: Google Maps Ubah Nama Lake Ontario Jadi Lake America untuk Pengguna AS

Jelang Pertemuan Trump-Xi

Bessent mengatakan belum dapat memastikan apakah dirinya akan bertemu langsung dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng sebelum pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada akhir September.

Menjelang pertemuan tersebut, pejabat AS dan China akan melanjutkan pembahasan mengenai kemungkinan pengurangan tarif terhadap barang-barang nonstrategis serta aturan terkait kecerdasan buatan (AI).

Bessent memperkirakan terdapat sekitar US$ 30 miliar barang nonstrategis dan nonkritis dari masing-masing negara yang berpotensi dibebaskan dari tarif.

Pertemuan Trump dan Xi akan berlangsung ketika AS berupaya membangun kembali kebijakan tarif setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sejumlah tarif luas yang sebelumnya diberlakukan berdasarkan undang-undang darurat.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 2,46% Senin (31/8), Saham Samsung Electronics Tertekan

Pemerintahan Trump pada Juli juga mengenakan tarif 12,5% terhadap impor China dalam penyelidikan perdagangan terkait kerja paksa dan bersiap menambah tarif terkait kelebihan kapasitas industri China melalui penyelidikan terpisah.

Bessent juga mengatakan akan menggelar pertemuan bilateral dengan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng dalam konferensi G20 di Asheville, meski ia tidak memberikan rincian mengenai agenda pertemuan tersebut.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×