Minoritas Muslim Tatar Ukraina Butuh Sarana dan Pasarana Ibadah

Kamis, 11 Agustus 2022 | 15:30 WIB   Reporter: Noverius Laoli
Minoritas Muslim Tatar Ukraina Butuh Sarana dan Pasarana Ibadah

ILUSTRASI. Tank milik Angkatan Bersenjata Ukraina terlihat saat latihan di sebuah lokasi, Rabu (14/4/2021). Minoritas Muslim Tatar Ukraina Butuh Sarana dan Pasarana Ibadah.


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasil Hamianin berharap pasca kunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo ke Ukraina dapat dilanjutkan dengan bantuan nyata yang terfokus bagi minoritas Muslim Tatar.

“Pada momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) dirayakan pada 9 Agustus, kami berharap komunitas Muslim Indonesia dapat memberikan dukungan nyata bagi komunitas Muslim Tatar di wilayah Krimea yang sangat menderita akibat invasi Rusia,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis, (11/8).

Vasil Hamianin menjelaskan kondisi komunitas Muslim Tatar di wilayah Semenanjung Krimea sangat berat. Sejak tahun 2014, wilayah tersebut dijajah Rusia dan hingga kini keseharian mereka terus menerus mengalami represi.

“Muslim Tatar direpresi oleh Moskow yang merupakan mayoritas Kristen Ortodoks. Ironisnya mereka juga tidak dilindungi Muslim Rusia karena mereka dianggap berbeda sehingga mereka kesulitan menjalankan ibadah,” tuturnya.

Kondisi kehidupan Muslim Tatar semakin memprihatinkan akibat intensitas perang yang meningkat sejak Februari 2022 hingga kini. Tidak saja masjid yang rusak, umat Muslim Tatar pun kesulitan beribadah akibat tekanan.

Baca Juga: Di Tengah Invasi Rusia, Ukraina Kenang Pengusiran Paksa Etnis Tatar Krimea

Untuk itu tahun ini Ukraina yang akan memperingati Hari Kemerdekaan pada 24 Agustus menggelar Ukraine Platform Summit, sebuah ajang penggalangan bantuan secara daring (online) yang ditujukan bagi pembangunan kembali Ukraina.

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasil Hamianin berharap Indonesia dapat memberikan bantuan nyata bagi bangsa Ukraina khususnya bagi minoritas Muslim Tatar yang membutuhkan sarana dan prasarana ibadah.

“Kami berharap Yang Mulia Bapak Jokowi (Presiden Joko Widodo) dapat terlibat dalam Ukraine Platform Summit khususnya bagi umat Muslim Tatar di wilayah Krimea yang paling terdampak oleh serangan Rusia,” tuturnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang masuk dalam jajaran The Muslim 500: The World's 500 Most Influential Muslims 2022 atau tokoh muslim paling berpengaruh tahun 2022, telah berkunjung ke Ukraina di tengah kekhawatiran terdampak konflik akibat serangan sepihak Rusia.

Aksi Jokowi berkunjung ke wilayah konflik menyamai keberanian Presiden Soeharto ketika pada 1995 berkunjung ke Sarajevo ketika kondisi Bosnia dan Herzegovina masih bergejolak akibat perang saudara yang melibatkan Bosnia, Kroasia, dan Serbia.

Baca Juga: Mengenal Belarusia, negara pecahan Uni Soviet yang dipimpin Diktator selama 26 tahun

Namun nama Indonesia dan Presiden Soeharto terpatri kuat bagi bangsa Bosnia dan Herzegovina karena menyumbang pembangunan Masjid Istiklal Džamija di Sarajevo sehingga hingga kini masjid tersebut kerap disebut sebagai Masjid Indonesia atau Masjid Soeharto.

Tidak seperti Soeharto, Jokowi memilih membangun masjid di Afghanistan yang bergejolak sebelum berkunjung. Pada 2014, Jokowi meneken Keputusan Presiden (Kepres) tentang pemberian hibah sebesar sebesar Rp 5 miliar untuk membiayai pembangunan masjid di Ahmad Shah Baba Mina, Kabul, Afghanistan.

 

Editor: Noverius Laoli

Terbaru