CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.544   15,00   0,09%
  • IDX 6.702   24,12   0,36%
  • KOMPAS100 882   4,93   0,56%
  • LQ45 668   3,51   0,53%
  • ISSI 234   0,64   0,27%
  • IDX30 371   1,43   0,39%
  • IDXHIDIV20 459   2,10   0,46%
  • IDX80 100   0,59   0,59%
  • IDXV30 128   0,75   0,59%
  • IDXQ30 119   0,49   0,41%

Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 100 Kamis (10/9), Selat Hormuz Makin Mencekam


Kamis, 10 September 2026 / 08:42 WIB
Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 100 Kamis (10/9), Selat Hormuz Makin Mencekam
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia bertahan di atas level US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9/2026).

Pasar kembali mencemaskan gangguan pasokan setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terbesar terhadap kapal sejak konflik kedua negara berlangsung sekitar enam bulan.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Ambruk 1,37% Kamis (10/9), Perang Iran-AS Bikin Investor Kabur

Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka naik 0,1% menjadi US$ 101,34 per barel pada pukul 01.07 GMT.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,5% menjadi US$ 96,55 per barel.

Harga Brent sebelumnya telah menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.

Iran pada Rabu (9/9) mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga memperingatkan akan meningkatkan respons jika serangan AS kembali terjadi.

Serangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan terhadap arus minyak dari kawasan Teluk Persia akan berlangsung lebih lama.

"Serangan balasan tersebut menunjukkan bahwa arus minyak dari Teluk Persia kemungkinan akan tetap terganggu dalam waktu yang cukup lama," ujar Daniel Hynes, analis ANZ, dalam catatan kepada klien.

Baca Juga: ECB Hadapi Bom Inflasi dari Perang Iran, Suku Bunga Bakal Naik Lagi?

Selat Hormuz jadi titik rawan

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati jalur perairan tersebut.

Namun, volume minyak yang melewati Selat Hormuz kini masih jauh di bawah level sebelum perang. Kondisi ini membuat pasar minyak harus beradaptasi dengan pasokan yang lebih terbatas.

Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu bahkan menaikkan proyeksi harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan.

Perubahan tersebut dilakukan seiring penurunan persediaan minyak global akibat berkurangnya pasokan dari Timur Tengah.

Menurut Hynes, meluasnya konflik berisiko memperparah gangguan pasokan yang sebelumnya sudah membuat pasar minyak harus bekerja keras mencari keseimbangan baru.

"Meluasnya konflik meningkatkan risiko gangguan yang lebih dalam terhadap pasokan minyak," kata Hynes.

Baca Juga: AS Kecolongan! Drone Bawah Laut Canggih Jatuh ke Tangan Iran

Kondisi tersebut membuat harga minyak berpotensi tetap berada di level tinggi selama konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung berkepanjangan, tekanan terhadap biaya energi global juga berpotensi semakin besar.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi perekonomian global karena dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sekaligus memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.

Bagi negara-negara importir energi, lonjakan harga minyak juga dapat meningkatkan biaya impor dan menekan daya beli masyarakat apabila kenaikan harga bahan bakar diteruskan ke konsumen.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×