Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak merosot, saham global melejit, dan dolar AS terkoreksi pada Rabu (8/4/2026), setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu reli pasar karena harapan aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz kembali normal.
Melansir Reuters, kesepakatan ini menutup pekan-pekan volatilitas pasar keuangan dan ketegangan geopolitik setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari mendorong situasi ke ambang konflik, dengan Teheran menutup jalur air strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Trump Batal ‘Hancurkan Iran’, Pilih Gencatan Senjata 2 Pekan
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (7/4/2026) setuju untuk gencatan senjata dengan Iran, kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan bagi Teheran untuk membuka kembali selat atau menghadapi serangan besar terhadap infrastruktur sipil.
Respons pasar sangat cepat dan dramatis. Harga minyak mentah AS turun sekitar 16% menjadi US$94,59 per barel, sementara Brent turun 15% ke US$92,35 per barel.
Kontrak berjangka S&P 500 naik lebih dari 2%, sedangkan kontrak berjangka Eropa melonjak lebih dari 4%. Dolar AS melemah, setelah sebelumnya menjadi aset aman saat gejolak berlangsung.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang melonjak sekitar 5%, sementara Kospi Korea Selatan naik 6%, memicu penghentian sementara perdagangan. MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 4%.
Baca Juga: Vietnam Sambut Status Emerging Market dari FTSE Russell, Diharap Tarik Dana Asing
Meski ada legawa pasar, investor masih menunggu apakah gencatan senjata ini akan menghasilkan penyelesaian lebih luas sebelum melakukan investasi besar.
Martin Whetton, kepala strategi pasar di Westpac mengatakan, “Apakah ini mendorong orang mengambil risiko baru? Tidak. Hanya perdamaian yang bertahan lama yang bisa mengubah kondisi.”
Konflik enam minggu ini telah memicu lonjakan harga minyak, membangkitkan kekhawatiran inflasi, dan mengacak-acak proyeksi suku bunga global, memaksa pemerintah dan perusahaan menyesuaikan strategi menghadapi lonjakan energi mendadak.
Pengumuman Trump di media sosial menandai perubahan mendadak dari ancaman ekstrem sebelumnya, ketika ia memperingatkan bahwa "sebuah peradaban akan hancur malam ini" jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Baca Juga: Jurnalis AS yang Diculik di Irak Dibebaskan, Washington Pastikan Evakuasi Aman
Beberapa analis tetap skeptis apakah gencatan senjata ini akan berujung pada perdamaian jangka panjang, mengingat akar penyebab konflik belum terselesaikan.
Carol Kong, ahli strategi valuta asing Commonwealth Bank of Australia menekankan, “Risiko eskalasi kembali tetap ada, dan nilai dolar yang turun kemungkinan hanya sementara.”













