Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran, hanya kurang dari dua jam sebelum tenggat yang ia tetapkan bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Melansir Reuters Rabu (8/4/2026), keputusan ini menjadi perubahan drastis setelah sebelumnya Trump memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan musnah malam ini” jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Baca Juga: Vietnam Sambut Status Emerging Market dari FTSE Russell, Diharap Tarik Dana Asing
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang berperan sebagai mediator menyatakan telah mengundang delegasi AS dan Iran untuk bertemu di Islamabad pada Jumat.
Kesepakatan ini bergantung pada komitmen Iran untuk menghentikan blokade minyak dan gas melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan, Teheran akan menghentikan serangan balasan dan menjamin keamanan jalur pelayaran.
“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,” tulis Trump di platform Truth Social, seraya menyebut bahwa target militer telah tercapai dan kesepakatan damai jangka panjang tengah dirundingkan.
Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengklaim kesepakatan tersebut sebagai kemenangan, dengan menyebut AS telah menerima syarat-syarat Iran.
Gedung Putih menegaskan bahwa Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz dan negosiasi akan berlanjut.
Baca Juga: Jurnalis AS yang Diculik di Irak Dibebaskan, Washington Pastikan Evakuasi Aman
Israel Ikut Setuju, Ketegangan Belum Sepenuhnya Reda
Dua pejabat Gedung Putih menyebut Israel juga menyetujui gencatan senjata dan menghentikan serangan terhadap Iran, termasuk operasi di Lebanon. Namun, belum jelas kapan gencatan senjata akan berlaku penuh.
Media Israel melaporkan implementasi akan dimulai setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz, sementara serangan masih mungkin terjadi dalam masa transisi.
Bahkan, tak lama setelah pengumuman Trump, militer Israel melaporkan peluncuran rudal dari Iran yang memicu ledakan di Tel Aviv.
Negara-negara Teluk seperti Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab juga meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan sistem pertahanan udara.
Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Rudal, Redam Harapan Diplomasi dengan Korea Selatan
Dampak Global dan Respons Pasar
Perang yang telah berlangsung selama enam pekan ini menewaskan lebih dari 5.000 orang di hampir selusin negara, termasuk lebih dari 1.600 warga sipil di Iran.
Ancaman Trump sebelumnya untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran memicu kekhawatiran global dan kecaman internasional, termasuk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemimpin Vatikan.
Sejumlah pakar hukum internasional bahkan menilai serangan terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Penutupan Selat Hormuz sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global.
Badan Informasi Energi AS memperingatkan harga energi bisa tetap tinggi bahkan setelah jalur tersebut dibuka kembali.
Namun, pengumuman gencatan senjata langsung disambut positif pasar. Kontrak berjangka saham AS menguat, sementara harga minyak turun tajam ke level terendah sejak akhir Maret.
Baca Juga: ICE Tembak Pria yang Diduga Coba Tabrak Petugas di California AS
Tekanan Politik Domestik
Di dalam negeri, popularitas Trump berada di titik terendah, di tengah kampanye pemilu paruh waktu AS. Mayoritas warga Amerika disebut menolak perang dan khawatir terhadap lonjakan harga bahan bakar.
Kesepakatan ini menjadi titik balik penting setelah sehari penuh diwarnai ancaman eskalasi, termasuk serangan ke jembatan, bandara, dan fasilitas petrokimia di Iran, serta serangan AS ke Pulau Kharg pusat ekspor minyak utama Iran.













