kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Musim Laporan Keuangan Uji Ketahanan Wall Street di Tengah Gejolak Perang


Jumat, 10 April 2026 / 23:41 WIB
Musim Laporan Keuangan Uji Ketahanan Wall Street di Tengah Gejolak Perang
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat (AS) bersiap menghadapi ujian penting seiring dimulainya musim laporan keuangan kuartal I/2026. 

Investor akan mencermati apakah kinerja laba perusahaan masih cukup kuat menopang reli pasar, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga energi.

Musim laporan dibuka oleh sektor perbankan besar, yang dinilai menjadi barometer awal kondisi ekonomi. Sejumlah bank raksasa seperti Goldman Sachs dijadwalkan merilis kinerja pada awal pekan, disusul JPMorgan, Citigroup, dan Wells Fargo. 

Selain itu, laporan dari perusahaan besar lain seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan PepsiCo juga akan menjadi sorotan.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Naik Senin (24/11): Pasar Yakin The Fed Potong Bunga di Desember

Secara umum, ekspektasi pasar masih cukup tinggi. Laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh sekitar 14% pada kuartal pertama dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Jika tercapai, ini akan menjadi kuartal keenam berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit—rekor terpanjang sejak 2011.

Optimisme tersebut sejauh ini tetap terjaga, meski konflik antara Amerika Serikat dan Iran sempat mengguncang pasar. 

Bahkan, indeks S&P 500 sudah hampir sepenuhnya pulih dari tekanan sejak aksi militer dimulai pada akhir Februari, dengan posisi saat ini hanya turun kurang dari 1%.

Namun, pelaku pasar mulai mengingatkan adanya “ujian berat” pada musim laporan kali ini. Ekspektasi yang tinggi membuat ruang kekecewaan semakin terbuka, terutama jika dampak perang mulai terasa pada kinerja fundamental perusahaan.

Baca Juga: Bursa Wall Street Jatuh Setelah Donald Trump Akan Serang Iran Lebih Agresif

“Pasar masih kuat karena estimasi laba terus naik. Tapi kalau mulai terlihat dampak negatif ke fundamental, situasinya bisa berubah cepat,” ujar Nick Giorgi, kepala strategi ekuitas Alpine Macro.

Dari sisi sektoral, pertumbuhan laba diperkirakan tidak merata. Sektor teknologi diproyeksikan menjadi motor utama dengan lonjakan laba lebih dari 40%. Sebaliknya, sektor kesehatan justru diperkirakan mencatat penurunan sekitar 10%.

Salah satu faktor kunci yang akan diamati adalah dampak kenaikan harga minyak terhadap biaya operasional perusahaan dan daya beli konsumen. 

Meski harga minyak sempat turun setelah tercapainya gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran, harga minyak mentah AS masih melonjak sekitar 70% sepanjang tahun ini.

Ke depan, investor juga akan mencermati panduan (guidance) dari perusahaan untuk melihat apakah prospek pertumbuhan masih realistis. 

Saat ini, laba S&P 500 untuk sepanjang 2026 diproyeksikan tumbuh lebih dari 19%, meningkat dari perkiraan sekitar 15% pada akhir Februari.

“Pertanyaannya, apakah proyeksi ini bisa bertahan atau justru direvisi turun. Di sinilah peran panduan perusahaan jadi sangat penting,” kata Brent Schutte dari Northwestern Mutual Wealth Management.

Baca Juga: Wall Street Menguat, Investor Cermati Kenaikan Biaya Energi Jelang Pertemuan The Fed

Dari sektor perbankan, investor akan menggali gambaran kondisi ekonomi riil, terutama terkait perilaku konsumen dan aktivitas kredit. Indikasi perlambatan konsumsi atau pengetatan pinjaman bisa menjadi sinyal awal tekanan ekonomi.

“Data belanja konsumen yang dilihat bank akan sangat krusial untuk menilai seberapa besar risiko perlambatan,” ujar Garrett Melson dari Natixis Investment Managers.

Di luar laporan keuangan, pasar juga akan memantau rilis data harga produsen (PPI) Amerika Serikat sebagai indikator inflasi. Dampak lonjakan harga energi akibat perang diperkirakan baru akan terasa secara bertahap.

Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula risikonya terhadap inflasi dan kinerja ekonomi secara keseluruhan. Untuk saat ini, pasar masih bertaruh bahwa mesin laba korporasi AS tetap kuat, namun ujian sesungguhnya baru dimulai pekan depan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×