Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Netflix terus memperkuat strategi pengembangan konten orisinal guna membangun franchise global, setelah gagal mengakuisisi aset besar milik Warner Bros Discovery. Langkah ini menjadi bagian dari upaya raksasa streaming tersebut untuk bersaing dengan pemain lama di industri hiburan.
Chief Creative Officer Netflix, Bela Bajaria, menegaskan bahwa perusahaan akan tetap berinvestasi pada ide-ide orisinal serta menjalin kemitraan dengan studio besar seperti MGM dan Warner Bros guna menciptakan film dan serial yang mampu bertahan lama di pasar.
Menurut Bajaria, Netflix ingin menghasilkan karya yang memiliki daya tahan seperti serial populer mereka, antara lain Stranger Things, Wednesday, dan Bridgerton.
Tantangan Membangun Franchise Sendiri
Kegagalan akuisisi Warner Bros menjadi sorotan atas keterbatasan Netflix dibandingkan studio tradisional seperti Walt Disney dan Universal Pictures, yang telah memiliki katalog cerita dan karakter selama lebih dari satu abad.
Baca Juga: Kremlin Dorong Penggunaan Aplikasi Pesan MAX, Warga Rusia Khawatir Privasi Terancam
Netflix bahkan sempat mempertimbangkan investasi besar hingga US$72 miliar untuk memperkuat portofolio intellectual property (IP), termasuk waralaba populer seperti Harry Potter dan Game of Thrones.
Hal ini menunjukkan bahwa membangun franchise dari nol merupakan tantangan besar bagi platform yang relatif baru di Hollywood.
Strategi Netflix yang menyasar berbagai segmen audiens secara bersamaan juga dinilai berbeda dibandingkan pendekatan studio lain yang fokus membangun semesta cerita tertentu, seperti serial Yellowstone besutan Taylor Sheridan.
Keberhasilan dan Kegagalan
Meski menghadapi tantangan, Netflix tetap mencatat sejumlah keberhasilan. Adaptasi novel karya Julia Quinn menjadi serial Bridgerton oleh Shonda Rhimes berhasil menciptakan franchise yang berkembang hingga beberapa musim dan spin-off.
Serial Stranger Things juga menjadi sukses besar dengan berbagai turunan seperti pertunjukan teater dan produk merchandise. Film aksi Extraction yang dibintangi Chris Hemsworth turut menghasilkan sekuel dan rencana ekspansi lebih lanjut.
Baca Juga: Pasar Lesu, Produsen Otomotif Tetap Gas Rilis Mobil Listrik di AS
Di sisi lain, beberapa investasi besar belum membuahkan hasil optimal. Akuisisi katalog karya Roald Dahl senilai sekitar US$700 juta belum menghasilkan hit besar dalam lima tahun terakhir, meskipun Netflix berencana meluncurkan proyek baru bertema Willy Wonka.
Kegagalan juga terlihat pada film The Electric State yang menelan biaya sekitar US$320 juta. Film yang dibintangi Millie Bobby Brown dan Chris Pratt itu mendapat kritik tajam, sehingga rencana pengembangan franchise lanjutan tidak terealisasi.
Kompetisi dan Tekanan Pasar
Pertumbuhan bisnis Netflix mulai melambat, dengan proyeksi pendapatan naik 13% tahun ini, lebih rendah dibandingkan 16% pada 2025. Sementara itu, pendapatan dari iklan masih relatif kecil, hanya sekitar 3% dari total.
Persaingan juga semakin ketat, terutama dari YouTube dan Walt Disney yang memiliki katalog karakter ikonik. Keduanya bahkan mengungguli Netflix dalam pangsa penayangan televisi sejak akhir 2024.
Selain itu, rencana akuisisi Warner Bros oleh Paramount Skydance berpotensi mengurangi jumlah pemasok konten orisinal bagi Netflix.
Strategi ke Depan
Dengan dana US$2,8 miliar dari kegagalan akuisisi, CEO Netflix Ted Sarandos dan Greg Peters tetap melanjutkan strategi mandiri dalam membangun franchise.
Beberapa proyek besar yang akan datang mencakup serial live-action Scooby-Doo, film The Chronicles of Narnia garapan Greta Gerwig, serta adaptasi Assassin’s Creed.
Baca Juga: Perluas Jaringan, Tesla Mengincar Posisi Teratas Mobil Impor di Jepang
Selain itu, Netflix juga tengah mengembangkan potensi franchise baru dari film animasi KPop Demon Hunters yang sukses besar secara global. Perusahaan telah menyiapkan ekspansi melalui merchandise dari Mattel dan Hasbro, hingga kemungkinan tur konser dan sekuel animasi.
Namun, kesuksesan tersebut sempat tidak terantisipasi sepenuhnya, sehingga Netflix kehilangan momentum penjualan merchandise pada musim liburan.
Ke depan, Netflix optimistis dapat mempertahankan kualitas dan konsistensi kontennya. Wakil Presiden Serial Orisinal Netflix, Jinny Howe, menyatakan bahwa perusahaan percaya diri dengan jajaran konten tahun 2026 yang mencakup musim terbaru Bridgerton, One Piece, serta reboot Little House on the Prairie.
Dengan strategi agresif dan investasi berkelanjutan, Netflix berupaya menciptakan franchise global yang mampu bersaing di tengah lanskap industri hiburan yang semakin kompetitif.













