Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Nvidia cetak kinerja cemerlang pada kuartal II-2026 dan mengerek panduan kinerja untuk kuartal III-2026. Realisasi kinerja Nvidia ini melampaui estimasi konsensus untuk kuartal kedua dengan selisih yang signifikan.
Rabu (27/8/2026), Nvidia melaporkan, pendapatan pada kuartal II-2026 mencapai US$ 89 miliar atau melonjak 117% secara tahunan (YoY). Perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California, ini juga memperkirakan pendapatan pada kuartal III-2026 akan mencapai sekitar US$ 108 miliar plus minus 2%. Target tersebut lebih tinggi dari proyeksi rata-rata analis sebesar US$ 104,19 miliar, menurut data yang dikumpulkan LSEG.
Para penggemar perusahaan melihat hal ini sebagai kabar baik tambahan bagi tren investasi terkait AI. Namun, pada awalnya, hasil tersebut dianggap kurang memadai mengingat lonjakan harga saham Nvidia dan saham teknologi berkapitalisasi besar (megacap) lainnya sebelumnya.
Saham Nvidia sempat dibuka melemah pada sesi perdagangan di luar jam bursa (after-hours) dan pergerakannya cenderung stagnan dalam 40 menit setelah laporan dirilis. Sentimen pasar membaik saat sesi telekonferensi perusahaan berlangsung.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Turun Tipis, Investor Memperhatikan Perjanjian di Selat Hormuz
CEO Nvidia Jensen Huang dan para eksekutif lainnya menyatakan bahwa perusahaan memperkirakan pendapatan pada tahun fiskal 2028 akan meningkat hingga 70%, sembari menjabarkan lebih lanjut pernyataannya bahwa AI telah mencapai titik balik.
Nvidia juga mengumumkan perluasan kemitraannya dengan unit komputasi awan Amzon, Amazon Web Services. Kerjasama tersebut akan menerapkan tambahan 2 juta GPU Nvidia di seluruh infrastruktur global Amazon pada tahun 2027 dan 2028, kata kepala keuangan Nvidia Colette Kress dalam panggilan pendapatan.
Saham Nvidia naik 4,2% di tengah volume perdagangan yang tinggi—mencapai lebih dari 50 juta lembar saham—berdasarkan data LSEG.
"Sulit untuk menafsirkan laporan tersebut sebagai sesuatu yang kurang dari luar biasa," kata Seth Hickle, kepala investasi di Mindset Wealth Management, perusahaan yang memiliki saham Nvidia sekaligus opsi jual (put options)—instrumen yang memberikan hak, namun bukan kewajiban, untuk menjual saham pada harga tertentu sebelum tanggal yang ditentukan.
BAROMETER UTAMA AI MEMBUKTIKAN KINERJANYA
Hasil kinerja Nvidia, salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, dianggap sebagai barometer bagi pasar AI karena cip buatannya menggerakkan sebagian besar pusat data utama dan model AI canggih secara global.
Perusahaan-perusahaan seperti Microsoft dan Meta Platforms, dua pelanggan terbesar Nvidia, baru-baru ini memperkuat ekspektasi bahwa perusahaan-perusahaan teknologi raksasa (Big Tech) akan membelanjakan lebih dari US$ 730 miliar untuk infrastruktur AI tahun ini.
Angka yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menandai peningkatan besar dari pengeluaran tahun lalu yang sebesar US$ 400 miliar.
Nvidia telah menjadi salah satu perusahaan dengan kinerja paling andal di Silicon Valley dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi saham andalan dalam pasar bullish yang didorong oleh AI, yang dimulai hampir empat tahun lalu.
Saham Nvidia telah melonjak sekitar 1.700% dalam kurun waktu tersebut seiring dengan langkah raksasa semikonduktor ini menjadi perusahaan terbesar di dunia berdasarkan nilai pasar.
Baca Juga: Banjir Nepal, Sedikitnya 95 Korban Sudah Ditemukan Tewas, Ratusan Masih Hilang
Namun, tahun ini, kinerja saham Nvidia kalah bersinar dibandingkan perusahaan chip lain yang dinilai diuntungkan oleh pembangunan masif pusat data AI.
Sementara para investor semakin khawatir mengenai implikasi dari langkah-langkah pendanaan yang diambil oleh banyak perusahaan besar.
Saham Nvidia naik lebih dari 12% sepanjang tahun berjalan, tertinggal di belakang kenaikan lebih dari 60% pada indeks Philadelphia SE Semiconductor, namun Nvidia tetap menjadi barometer utama bagi sektor investasi AI.
Tekanan terhadap banyak perusahaan AI terkemuka muncul dari kekhawatiran mengenai apa yang disebut sebagai transaksi sirkular, di mana produsen produk AI bertindak sebagai penyandang dana bagi perusahaan lain. Pihak yang skeptis memperingatkan bahwa praktik ini dapat mendongkrak permintaan secara artifisial, mendistorsi sinyal ekonomi yang lebih luas, dan meningkatkan risiko penurunan tajam pasar.
Pada Rabu (26/8/2026) sore, Nvidia menyatakan bahwa eksposur kotor maksimumnya—berdasarkan seluruh perjanjian jaminan lahan, daya listrik, dan perusahaan cangkang (shell company)—mencapai total US$ 3,5 miliar, angka yang hanya merupakan sebagian kecil dari pendapatan kuartalannya.
KABAR BAIK BAGI PENGGEMAR AI
"Ini adalah kabar positif bagi sektor AI," ujar Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, perusahaan yang memiliki saham Nvidia. ...saham.
"Bagaimana hal ini berdampak pada saham-saham AI adalah persoalan yang lebih rumit karena pasar saat ini sedang mengalami rotasi; apakah rotasi itu akan berlanjut atau justru akan kembali memacu saham-saham tersebut?" tambah Carlson.
"Saya tidak tahu apakah hal itu cukup untuk memicu lonjakan tersebut, namun dari segi gagasan atau tesis investasi terkait AI, menurut saya prospeknya masih solid."
Pasar telah melewati beberapa siklus antusiasme terhadap Nvidia. Menjelang laporan hari Rabu, Nvidia telah mencatatkan kinerja yang melampaui perkiraan analis selama delapan kuartal berturut-turut.
Baca Juga: Pendapatan Pribadi Warga AS Naik 0,4% pada Juli 2026, Belanja Konsumen Melambat
Pasar opsi memperhitungkan pergerakan harga sebesar 5,4% ke arah mana pun saat perdagangan dibuka pada hari Kamis; angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan pergerakan sebesar 6,5% menjelang laporan laba bulan Mei.
"Dengan pergerakan harga saham Nvidia yang masih berada dalam kisaran prediksi pasar, pasar opsi bisa dikatakan tepat sasaran untuk saat ini," ujar Hickle.
"Tantangan bagi Nvidia bukan lagi sekadar mencatatkan kinerja yang baik, melainkan mencatatkan hasil yang melampaui angka-angka impresif yang sudah diharapkan oleh para investor. Dalam situasi ini, melampaui perkiraan Wall Street hampir menjadi syarat mutlak untuk bisa bersaing."














