kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45868,39   -1,11   -0.13%
  • EMAS947.000 1,07%
  • RD.SAHAM -0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.10%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pasca insiden sumpah serapah Menlu Filipina, ini tanggapan China


Rabu, 05 Mei 2021 / 05:48 WIB
Pasca insiden sumpah serapah Menlu Filipina, ini tanggapan China
ILUSTRASI. China mendesak Filipina untuk mematuhi tata krama dasar dan menghindari diplomasi megafon.


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China pada Selasa (4/5/2021) mendesak Filipina untuk mematuhi tata krama dasar dan menghindari diplomasi megafon. Imbauan itu dikeluarkan  setelah menteri luar negeri negara Asia Tenggara itu menggunakan pesan Twitter berisi sumpah serapah yang menuntut agar kapal-kapal China meninggalkan perairan yang disengketakan.

Mengutip Reuters, pernyataan Menlu Filipina Teodoro Locsin, yang dikenal karena komentarnya yang blak-blakan, mengikuti pernyataan protes Manila atas apa yang disebutnya kehadiran ilegal ratusan kapal China di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil Filipina.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri China mendesak Filipina untuk menghormati kedaulatan dan yurisdiksi negara serta berhenti mengambil tindakan yang memperumit situasi.

"Fakta telah berulang kali membuktikan bahwa diplomasi mikrofon tidak dapat mengubah fakta, tetapi hanya dapat merusak rasa saling percaya," katanya seperti yang dikutip Reuters.

Baca Juga: Menlu Filipina tulis cuitan berisi sumpah serapah terkait Laut China Selatan

"Diharapkan orang-orang terkait di Filipina akan mematuhi tata krama dasar dan posisi mereka saat mengeluarkan pernyataan," tambahnya.

Kemenlu China mengutip pernyataan Presiden Filipina Rodrigo Duterte bahwa perbedaan antara negara pada masalah individu seharusnya tidak mempengaruhi persahabatan dan kerja sama.

"China selalu bekerja sama, dan akan terus bekerja sama dengan Filipina, untuk menyelesaikan perbedaan dengan benar dan memajukan kerja sama melalui konsultasi persahabatan," urainya.

Baca Juga: Filipina lawan kapal China lewat latihan maritim di Laut China Selatan

China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, yang dilalui kapal perdagangan yang bernilai sekitar US$ 3 triliun setiap tahun. Pada tahun 2016, pengadilan arbitrase di Den Haag memutuskan bahwa klaimnya tidak sesuai dengan hukum internasional.

Duterte telah mengingatkan para pejabatnya bahwa tidak ada ruang untuk mengutuk dalam masalah diplomasi. "Hanya Presiden yang dapat mengumpat," kata juru bicaranya Harry Roque, pada konferensi pers reguler.

 

Selanjutnya: Filipina lawan kapal China lewat latihan maritim di Laut China Selatan

 




TERBARU

[X]
×