Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah Brent kembali menguat pada September 2026 di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengganggu arus ekspor minyak melalui sejumlah jalur strategis.
Namun, harga Brent masih bertahan di bawah level psikologis US$100 per barel.
Gangguan tersebut telah memangkas pengiriman minyak mentah dari produsen Timur Tengah menjadi sekitar 11 juta barel per hari (bpd), dari sekitar 18 juta bpd sebelum perang Iran dimulai tujuh bulan lalu, menurut Argus.
Meski demikian, sejumlah faktor membuat pasar minyak belum mengalami lonjakan harga yang lebih tajam.
Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh 1,4% pada Kuartal II 2026, Lebih Tinggi dari Perkiraan Awal
Arus minyak melalui Selat Hormuz masih berlangsung
Salah satu faktor utama adalah sebagian volume minyak masih mampu melewati Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global.
Rystad Energy mencatat, pada pekan sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus, sekitar 8 juta-9 juta bpd minyak masih mengalir melalui Selat Hormuz. Angka tersebut bahkan dua kali lipat dibandingkan volume pada pekan sebelumnya.
Setelah konflik kembali meningkat, arus minyak turun menjadi kurang dari 2 juta bpd. Namun, rata-rata pergerakan harian masih berada di kisaran 4 juta-5 juta barel.
Chief Economist Rystad Energy Claudio Galimberti mengatakan, volume tersebut masih menempatkan harga Brent pada level yang dianggap wajar sekitar US$95 per barel.
Sementara itu, estimasi industri menunjukkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz masih berada di kisaran 6 juta-8 juta barel per hari.
Data Kpler juga menunjukkan tidak ada kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) yang terlihat keluar dari selat tersebut sejak 2 September.
Sebagai perbandingan, ketika kesepakatan damai sementara AS-Iran berlangsung pada Juli, ekspor minyak melalui Hormuz sempat kembali ke level sebelum perang, yakni sekitar 16 juta bpd.
Baca Juga: Harga Gandum Melonjak, Konflik Laut Hitam Kembali Ganggu Pasokan
Produsen Timur Tengah mencari jalur alternatif
Tekanan pasokan juga sedikit diredam oleh kemampuan produsen minyak Teluk untuk menggunakan jalur alternatif.
Produsen di kawasan tersebut diperkirakan terus mengirimkan kargo melalui mekanisme ship-to-ship transfer di luar Selat Hormuz untuk mengurangi dampak gangguan ekspor.
Saudi Aramco, misalnya, kembali melakukan pemuatan minyak dari pelabuhan Ras Tanura di kawasan Teluk pada Agustus.
Di sisi lain, ekspor Saudi dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah masih berada di bawah tekanan akibat blokade angkatan laut yang dilakukan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.
Ekspor dari Yanbu turun ke level terendah dalam enam bulan, yakni 1,429 juta bpd pada Agustus, dari rata-rata 3,9 juta bpd dalam tiga bulan sebelumnya, berdasarkan data sementara Kpler.
Namun, jalur alternatif mulai menunjukkan peningkatan. Ekspor melalui pelabuhan Sidi Kerir di Mesir mencapai 2,139 juta bpd pada Agustus, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Juni.
Ekspor minyak Irak juga kembali meningkat menjadi sekitar 2,34 juta bpd pada Agustus.
Sementara itu, ekspor Uni Emirat Arab (UEA) berada di sekitar 2,9 juta bpd pada Juli dan Agustus. Ekspor minyak Kuwait juga pulih menjadi sekitar 1 juta bpd.
Berbeda dengan negara-negara tersebut, ekspor minyak Iran turun tajam akibat blokade AS.
Baca Juga: Anthropic Batalkan Rencana Akuisisi Startup AI Decart Senilai US$6 Miliar
Produksi negara lain ikut menambah pasokan
Pasar minyak global juga mendapatkan tambahan pasokan dari produsen di luar OPEC.
Produksi AS, Kanada dan Guyana diperkirakan meningkat dengan total sekitar 1,4 juta bpd sepanjang tahun ini. Tambahan tersebut membantu menutup sebagian kekurangan pasokan dari Timur Tengah.
Rusia juga masih mempertahankan ekspor minyak mentah sekitar 5,5 juta bpd pada Juli dan Agustus.
Meski turun dari puncaknya yang mencapai 6,4 juta bpd pada Juni, angka tersebut masih 23% lebih tinggi dibandingkan Februari.
Penurunan aktivitas kilang Rusia akibat kerusakan fasilitas setelah serangan Ukraina membuat lebih banyak minyak mentah tersedia untuk ekspor.
Namun, Rusia telah memangkas proyeksi produksi minyak 2026 ke level terendah dalam 17 tahun. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ekspor Rusia ke depan.
Baca Juga: Iran Ancam Buat Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas
Pelemahan permintaan menahan kenaikan harga
Faktor lain yang membuat harga minyak belum menembus US$100 adalah pelemahan permintaan.
Rystad Energy memperkirakan penurunan konsumsi atau demand destruction di sektor petrokimia dan bahan bakar transportasi masih signifikan pada kuartal III 2026, sekitar 3,5 juta bpd.
Angka tersebut memang membaik dibandingkan 4,5 juta bpd pada kuartal II, tetapi masih cukup besar untuk meredam tekanan harga.
China menjadi faktor utama. Negara importir minyak terbesar dunia tersebut menyumbang lebih dari separuh penurunan permintaan.
Pengiriman minyak mentah melalui laut ke China turun menjadi sekitar 7 juta bpd pada Juli dan Agustus, dari lebih dari 11 juta bpd pada Februari.
China juga memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar. Kpler memperkirakan persediaan minyak China mencapai sekitar 1,17 miliar barel sehingga memberikan bantalan bagi pasar ketika pasokan global terganggu.
Baca Juga: Iran Ancam Buat Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas
Pasar fisik justru menunjukkan kondisi lebih ketat
Meski harga Brent di pasar berjangka masih di bawah US$100, kondisi pasar fisik menunjukkan situasi yang jauh lebih ketat.
Premi minyak spot kembali meningkat ke level April. Minyak Dubai dan Oman untuk pengiriman November diperdagangkan dengan premi sekitar US$19-US$20 per barel terhadap kuotasi Dubai.
Kontrak berjangka Oman bahkan berada di US$104,54 per barel pada Senin, sementara Dubai secara tunai diperdagangkan sekitar US$105,10 per barel.
Chief Economist Argus David Fyfe mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar fisik sebenarnya sudah mengalami kekurangan pasokan yang signifikan.
"Pada saat ini, pasar menunjukkan bahwa kondisi fisik sangat ketat," ujar Fyfe.
Menurut dia, harga minyak secara fisik sudah berada jauh di atas US$100 per barel. Tekanan bahkan semakin terlihat pada pasar diesel yang mengalami kekurangan pasokan.
Eskalasi konflik AS-Iran diperkirakan semakin membatasi ekspor minyak dari kawasan Teluk. Di saat yang sama, permintaan bahan bakar diesel meningkat karena kilang mulai meningkatkan produksi.
Harga diesel di AS bahkan telah mencapai rekor tertinggi.
Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Selasa (8/9), ASX 200 Turun di Bawah 9.000
Bank mulai menaikkan proyeksi harga minyak
Sejumlah bank investasi mulai menaikkan proyeksi harga minyak karena gangguan pengiriman dari Timur Tengah diperkirakan berlangsung lebih lama.
Morgan Stanley memperkirakan harga Brent rata-rata mencapai US$100 per barel pada kuartal IV 2026.
Goldman Sachs juga menaikkan proyeksi harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$5 per barel untuk Desember 2026 dan 2027.
Goldman Sachs kini memperkirakan Brent berada di US$85 per barel dan WTI US$80 per barel pada Desember 2026.
Untuk 2027, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent berada di US$80 per barel dan WTI US$75 per barel.
Kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa gangguan pengiriman minyak dari Timur Tengah dapat berlangsung hingga tahun depan.
Dengan demikian, meski Brent belum menembus US$100 per barel, pasar fisik sebenarnya sudah menunjukkan tekanan yang jauh lebih besar.
Kombinasi gangguan Selat Hormuz, keterbatasan jalur alternatif, kenaikan permintaan diesel dan risiko berlanjutnya konflik AS-Iran menjadi faktor yang berpotensi kembali mendorong harga minyak ke atas level US$100.














