kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.635   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.662   42,29   0,64%
  • KOMPAS100 873   7,18   0,83%
  • LQ45 662   5,45   0,83%
  • ISSI 233   1,52   0,66%
  • IDX30 370   2,55   0,69%
  • IDXHIDIV20 457   2,38   0,52%
  • IDX80 99   0,78   0,79%
  • IDXV30 127   0,57   0,45%
  • IDXQ30 118   0,59   0,50%

Iran Ancam Buat Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas


Selasa, 08 September 2026 / 09:12 WIB
Iran Ancam Buat Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas
ILUSTRASI. Iran - Banner Gambar Presiden AS Donald Trump (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran kembali meningkatkan tensi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dengan mengancam menerapkan zona eksklusi maritim baru di Teluk Persia serta memperingatkan AS mengenai penggunaan rudal baru.

Langkah tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur pelayaran dan pasokan energi global.

Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Selasa (8/9), ASX 200 Turun di Bawah 9.000

Iran juga menuding Washington menjalankan "perang ekonomi" dan mengklaim telah menembakkan rudal canggih ke arah kapal perang AS. Ancaman tersebut muncul hanya beberapa hari setelah kedua negara kembali terlibat aksi saling serang.

Konflik yang telah berlangsung selama enam bulan tersebut ditandai dengan periode jeda yang kemudian diikuti kembali oleh eskalasi.

AS terakhir melaporkan serangan terhadap target Iran pada Sabtu, ketika pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran. Sehari kemudian, media pemerintah Iran melaporkan bahwa negaranya menembakkan rudal Qassem Basir.

Meski AS berupaya membuka kembali akses Selat Hormuz, Iran masih mengganggu aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia.

Hingga kini belum terlihat kemajuan diplomatik yang dapat mengakhiri perang yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Memburuk, Tertekan Biaya dan Risiko Kenaikan Suku Bunga

Iran Siapkan Zona Eksklusi Maritim

Iran menyatakan akan mengumumkan zona terbatas baru di Teluk Persia dalam beberapa hari mendatang, sekaligus mempublikasikan peta koridor pelayaran baru melalui Selat Hormuz. Namun, belum jelas kapan rincian kebijakan tersebut akan diumumkan.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan zona tersebut akan dimulai dari wilayah tempat blokade AS terhadap Iran berlangsung dan meluas ke sejumlah area di Teluk Persia.

Setiap kapal yang memasuki wilayah tersebut, menurut Rezaei, akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran.

"Dalam beberapa hari terakhir, Washington telah menerima peringatan jelas dari rudal-rudal baru Iran. Perang ekonomi akan dibalas dengan zona eksklusi maritim di seluruh Teluk Persia hingga batas blokade. Postur operasional terhadap kapal perang dan pangkalan AS telah diubah secara mendasar," ujar Rezaei melalui media sosial X.

Pernyataan tersebut kemungkinan merujuk pada rudal balistik Qassem Basir yang menurut media Iran ditembakkan ke arah kapal perang AS di dekat Selat Hormuz. Namun, militer AS menyatakan kapal perangnya berhasil menghindari serangan rudal tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Selasa (8/9), Brent ke US$97,34 & WTI ke US$92,63

Selat Hormuz Jadi Titik Risiko Pasar Energi

Meski serangan besar AS telah melemahkan kemampuan militer konvensional Iran dan memberikan tekanan terhadap perekonomiannya, Iran masih memiliki kemampuan rudal dan drone yang dapat digunakan untuk mengancam kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz tanpa izinnya.

Kemampuan tersebut menjadi salah satu sumber daya tawar utama Iran di tengah konflik.

Sebelum perang, sekitar seperlima pengiriman minyak dan liquefied natural gas (LNG) dunia melewati Selat Hormuz.

Gangguan di jalur tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengiriman sekaligus mendorong harga energi global.

Namun, sejumlah analis menilai kemampuan Iran memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tekanan mulai berkurang. Di sisi lain, sanksi ekonomi baru dari AS semakin sulit ditanggung oleh perekonomian Iran.

Data pelayaran menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas per hari yang melintasi Selat Hormuz dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Mei.

Baca Juga: Harga Emas Spot Naik ke US$4.418 Selasa (8/9), Pasar Menanti Data Inflasi AS

Trump Klaim Harga Minyak Akan Turun

Presiden AS Donald Trump tetap optimistis konflik tersebut pada akhirnya akan menurunkan harga minyak.

"Harga minyak akan turun drastis, seperti segala sesuatu lainnya yang turun, ketika kita MENANG perang dengan Iran. Tiga dolar per galon, tetapi pada akhirnya di bawah dua dolar per galon. Semua itu akan terjadi dengan cepat, dan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Trump melalui media sosial.

Namun, hingga kini sejumlah target yang ditetapkan Trump saat meluncurkan Operation Epic Fury pada Februari belum sepenuhnya tercapai.

Target tersebut antara lain mengakhiri program nuklir Iran, menghentikan kemampuan Iran menyerang negara-negara tetangganya, serta menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran menggulingkan pemerintahannya.

Pemerintahan Iran masih bertahan dan berupaya keluar dari perang dalam posisi yang lebih kuat.

Teheran juga terus menuntut keringanan sanksi serta berharap dapat memperoleh pungutan dari kapal-kapal yang menggunakan Selat Hormuz.

Sementara itu, eskalasi konflik juga meluas ke Lebanon. Serangan Israel terhadap sebuah kota di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 12 orang pada Senin, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Baca Juga: Trump Ancam Bombardier, Wajib Produksi Jet di AS atau Kehilangan Pasar

Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi militer Israel secara lebih luas meski sebelumnya telah tercapai gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran pada Juni.

Kondisi ini juga memperumit upaya mengakhiri konflik yang lebih luas. Teheran menegaskan bahwa kesepakatan jangka panjang dengan Washington harus mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU

[X]
×