kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.789   -26,00   -0,15%
  • IDX 8.034   111,09   1,40%
  • KOMPAS100 1.124   16,25   1,47%
  • LQ45 817   10,90   1,35%
  • ISSI 285   6,34   2,28%
  • IDX30 427   6,29   1,49%
  • IDXHIDIV20 511   5,16   1,02%
  • IDX80 125   2,10   1,71%
  • IDXV30 139   3,66   2,70%
  • IDXQ30 138   1,04   0,76%

Pemegang Emas Swasta Terbesar Dunia Kini Jadi Pembeli Besar Utang AS


Selasa, 03 Februari 2026 / 06:36 WIB
Pemegang Emas Swasta Terbesar Dunia Kini Jadi Pembeli Besar Utang AS
ILUSTRASI. Tether kini pemegang emas swasta terbesar dan utang AS. Strategi ini ubah peta keuangan global. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: The Street | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pemegang emas swasta terbesar di dunia kini diam-diam membangun neraca keuangan yang setara dengan lembaga keuangan besar, dengan portofolio yang mencakup aset fisik dan surat utang pemerintah Amerika Serikat.

Mengutip The Street, perusahaan tersebut adalah Tether, yang selama ini dikenal sebagai penerbit stablecoin terbesar di dunia, USDT. Kini, Tether berada di persimpangan dua aset safe haven tradisional, yakni emas dan obligasi pemerintah AS (U.S. Treasuries), dalam skala yang mulai berdampak pada pasar modal global.

Neraca Tether Menyaingi Lembaga Keuangan

Tether tak lagi sekadar penyedia likuiditas kripto. Perusahaan ini kini menjadi salah satu pemegang swasta terbesar emas dan surat utang pemerintah AS, posisi yang biasanya ditempati oleh bank, manajer investasi, dan lembaga negara.

Tether telah mengakumulasi sekitar 80 hingga 116 metrik ton emas dalam cadangan mereka serta melalui produk emas tokenisasi, XAUT. Dengan jumlah tersebut, Tether menjadi pemegang emas sektor swasta terbesar di dunia.

Baca Juga: AS Turunkan Tarif Impor ke India Jadi 18%, India Sepakat Stop Pembelian Minyak Rusia

Pada kuartal IV-2025 saja, Tether menambah sekitar 27 ton emas, seiring lonjakan harga emas yang dipicu ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi yang masih tinggi.

Emas tersebut berjalan seiring dengan portofolio obligasi pemerintah AS yang terus membesar.

Dalam laporan atestasi terbaru yang dirilis pada 30 Januari dan disusun oleh firma akuntansi BDO, Tether melaporkan kepemilikan langsung surat utang pemerintah AS lebih dari US$ 122 miliar. Jika termasuk transaksi reverse repo semalam, total eksposur terhadap Treasuries melampaui US$ 141 miliar.

Level tersebut menempatkan Tether sebagai salah satu pemegang non-negara terbesar surat utang pemerintah AS di dunia.

Secara keseluruhan, komposisi aset ini mencerminkan strategi cadangan yang semakin menyerupai lembaga keuangan besar, bukan lagi sekadar perusahaan kripto tahap awal.

Baca Juga: Kekayaan Epstein: Siapa 43 Orang yang Berhak Atas Warisan US$ 630 Juta?

Pertumbuhan Stablecoin Dorong Permintaan Treasuries

Pendorong utama ekspansi tersebut adalah pertumbuhan pesat USDT. Sepanjang 2025, Tether menerbitkan hampir US$ 50 miliar token baru, sehingga total peredaran USDT melampaui US$ 186 miliar.

Lonjakan ini didorong oleh tingginya permintaan likuiditas dolar di negara berkembang, sistem pembayaran, dan perdagangan aset digital.

Model bisnisnya relatif sederhana: dana dolar yang disetor untuk mencetak USDT diinvestasikan terutama pada surat utang pemerintah AS jangka pendek dan aset likuid serupa.

Imbal hasil dari aset tersebut menjadi pendapatan Tether, sementara aset dasarnya tetap tersedia untuk memenuhi permintaan penarikan (redemption).

Dalam skala saat ini, model ini menjadikan Tether sebagai pembeli signifikan Treasury bills, khususnya di tenor pendek.

Risiko Kebijakan dan Sistem Keuangan

Meningkatnya peran penerbit stablecoin sebagai pemegang besar utang pemerintah AS mulai mendapat perhatian serius dari pembuat kebijakan.

Riset dari Federal Reserve Bank of Kansas City memperingatkan bahwa meskipun stablecoin dapat meningkatkan permintaan terhadap Treasuries, hal itu juga berpotensi menarik dana keluar dari simpanan perbankan.

Berbeda dengan bank, penerbit stablecoin tidak dapat menyalurkan kredit langsung ke sektor riil, sehingga pergeseran dana besar-besaran ke “dolar digital” dikhawatirkan dapat menekan ketersediaan kredit dalam perekonomian.

Kerangka regulasi pun mulai mengakomodasi dinamika ini. Undang-undang baru di AS, termasuk GENIUS Act, secara efektif mengarahkan cadangan stablecoin ke Treasuries dan aset berbasis pemerintah lainnya, sekaligus memperkuat peran penerbit stablecoin sebagai pembeli swasta surat utang negara.

Tonton: Profil Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Dirut BEI Sementara

Untuk saat ini, skala stablecoin masih relatif kecil dibandingkan pasar Treasuries AS senilai sekitar US$ 26 triliun. Namun, dengan proyeksi bank-bank besar bahwa stablecoin bisa tumbuh hingga triliunan dolar dalam dekade mendatang, neraca Tether menjadi sinyal bahwa perusahaan berbasis kripto mulai menjadi bagian dari sumber pendanaan sistem keuangan global.

Selanjutnya: Kinerja MDKA 2026: Tambang Emas Pani Siap Jadi Motor Pendongkrak

Menarik Dibaca: Promo HokBen Ramadhan: Pilihan Berbuka Praktis Mulai Rp 44 Ribuan di Jabodetabek




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×