Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NAIROBI. Pemerintah Kenya memberikan persetujuan tertulis kepada Amerika Serikat untuk membuka fasilitas karantina di negara Afrika Timur tersebut bagi warga Amerika Serikat yang terpapar wabah Ebola yang berpusat di Republik Demokratik Kongo.
Dua pejabat AS yang mengetahui penanganan wabah tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa otorisasi itu memberikan akses bagi AS untuk menggunakan lahan di pangkalan angkatan udara di Laikipia, wilayah Kenya bagian tengah.
Hingga kini, pejabat di kementerian luar negeri dan kementerian kesehatan Kenya belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait kebijakan tersebut.
Sebelumnya, Kenya mendorong agar fasilitas karantina itu dapat digunakan untuk semua kewarganegaraan, bukan hanya warga AS. Namun, belum jelas apakah skema tersebut akhirnya akan diterapkan.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Naik Tipis, Rekrutmen Mulai Melambat
Fasilitas karantina tersebut nantinya akan dioperasikan oleh anggota U.S. Public Health Service, cabang berseragam di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan pada Rabu (28/5), kementerian kesehatan Kenya menyebut pihaknya tengah berdiskusi dengan Amerika Serikat dan mitra global lainnya terkait kerja sama penanganan wabah Ebola. Namun, pernyataan itu tidak secara spesifik menyebut rencana pembangunan fasilitas karantina.
Sejauh ini, seorang dokter asal Amerika Serikat yang terinfeksi Ebola dan beberapa warga AS lainnya yang terpapar virus tersebut telah dikirim ke Jerman untuk menjalani perawatan dan pemantauan kesehatan. Selain itu, seorang dokter AS lain yang terpapar virus Ebola juga telah dikirim ke Republik Ceko.













