Penduduk Irak sambut Ramadhan di bawah ancaman krisis pangan

Selasa, 13 April 2021 | 13:48 WIB Sumber: Arab News
Penduduk Irak sambut Ramadhan di bawah ancaman krisis pangan

ILUSTRASI. Demonstran memegang bendera Irak saat mereka berkumpul untuk menandai ulang tahun pertama protes anti-pemerintah di Baghdad, Irak, 25 Oktober 2020.


KONTAN.CO.ID - BAGHDAD. Bulan Ramadhan di negara Islam seperti Irak jelas jadi momen yang sangat penting. Sayangnya, tahun ini kondisi perekonomian Irak membuat rakyatnya berada di bayang-bayang krisis pangan.

Dihadapkan dengan kenaikan harga yang tajam, penurunan daya beli dinar dan meningkatnya pengangguran, warga Irak memasuki bulan puasa Ramadhan dengan perasaan takut.

Seorang ibu tunggal dengan lima anak bernama Umm Hussein, jadi salah satu orang yang merasakan dampak krisis ini memasuki bulan Ramadhan.

"Setelah seharian berpuasa, kami harus makan sesuatu, bahkan jika harga satu kilo tomat naik lebih dari dua kali lipat," ungkapnya seperti dikutip Arab News. Hussein masih harus berjuang setiap bulannya untuk mengumpulkan uang sewa sekitar US$ 45 untuk rumah sederhana mereka. 

Umm Hussein jadi salah satu dari 16 juta penduduk Irak yang hidup di bawah garis kemiskinan dan mesti mengandalkan kartu jatahnya untuk mendapatkan makanan.

Baca Juga: Sekitar 10.000 personel keamanan dikerahkan untuk melindungi Paus Fransiskus di Irak

Kartu jatah tersebut merupakan salah satu warisan Saddam Hussein dari tahun 1990-an ketika Irak berada di bawah embargo internasional yang ketat.

Melalui bantuan tersebut, setiap warga Irak yang kepala keluarganya berpenghasilan kurang dari US$ 1.000 sebulan berhak atas ketentuan dasar tertentu dengan harga bersubsidi. Tahun ini masyarakat mengaku belum mendapatkan jatah bulanan untuk Maret dan April. 

"Kami baru menerima jatah untuk Februari. Kami masih belum punya jatah untuk Ramadhan," ungkap Abu Seif, pria 36 tahun yang menjadi bagian dari subsidi.

Kenaikan harga bahan pokok

Kenaikan harga barang membuat banyak orang terjebak dalam utang yang besar. Seorang pemilik toko kelontong berujar bahwa sejumlah keluarga terpaksa berhutang hingga lebih dari 200.000 dinar atau sekitar US$ 130.

Baca Juga: Kedutaan AS di Irak kembali jadi sasaran roket, tiga kali dalam sepekan

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru