kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Penjaga Pantai China Izinkan Filipina Evakuasi Orang Sakit di Laut China Selatan


Rabu, 10 Juli 2024 / 10:31 WIB
ILUSTRASI. Penjaga Pantai China Izinkan Filipina Evakuasi Orang Sakit di Laut China Selatan. REUTERS


Sumber: Reuters | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - Penjaga pantai China mengatakan atas dasar kemanusiaan mereka telah "mengizinkan" Filipina mengevakuasi orang yang jatuh sakit di kapal perang tua yang kandas di Second Thomas Shoal, yang terletak di perairan yang diklaim oleh kedua negara.

Penjaga Pantai China mengatakan dalam sebuah pernyataan Selasa malam bahwa mereka memantau dan memverifikasi seluruh operasi pada hari Minggu, yang menurut juru bicaranya dilakukan atas permintaan dari pihak terkait di Filipina.

Sebulan yang lalu, penjaga pantai Filipina menuduh pihak China menghalangi evakuasi medis dari kapal perang tersebut, menyebut tindakan itu "barbar dan tidak manusiawi".

Baca Juga: 13 Kebiasaan Bill Gates yang Membuatnya Sukses Jadi Miliarder

Kementerian luar negeri China mengatakan pada hari yang sama bahwa China akan mengizinkan Filipina untuk mengirimkan pasokan dan mengevakuasi personel jika Manila memberi tahu Beijing sebelum melakukan misi.

Filipina memiliki tentara yang tinggal di kapal perang tua dan berkarat di Second Thomas Shoal, yang sengaja dikandaskan oleh Manila pada tahun 1999 untuk memperkuat klaim maritimnya.

Angkatan laut China beberapa kali bentrok dengan pasukan Filipina yang berusaha memasok kembali kapal yang kandas itu.

Baca Juga: Harga Kopi Robusta Melonjak ke Rekor Tertinggi karena Pasokan Mengetat

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan, jalur utama untuk perdagangan kapal senilai $3 triliun per tahun, sebagai wilayahnya sendiri.

Beijing menolak putusan 2016 oleh Pengadilan Arbitrase Permanen yang berbasis di Den Haag yang mengatakan klaim maritim ekspansifnya tidak memiliki dasar hukum. 




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×